Rabu, 04 Desember 2019

KETIKA REZEKI KITA HABIS

*_Bismillaah..._* 
*_Renungan hari ini_*
_Kamis, 4 Desember 2019/8 Rabi'ul Akhir 1441 H_

*[KETIKA REZEKI KITA HABIS, MAKA AJALPUN TIBA]*


Jangan perdulikan jasad kita yang akan busuk & hancur!! ... 
Kaum muslimin akan melaksanakan kewajiban mereka:

1. Memandikan kita 
2. Mengkafani kita 
3. Menyolati kita 
4. MENGUBURKAN KITA

*Yakinlah...!*
bahwa:
Dunia tidak sedih karena KEMATIAN kita 

~Alam semesta tidak berduka atas kepergian kita.!
~Segala sesuatu akan berjalan seperti biasa dan tidak berubah dengan perpisahan kita .!!
~Perekonomian akan terus berputar.!
~Pekerjaan kita , akan digantikan orang lain!
Harta kita akan pindah tangan secara halal kepada ahli waris.!
Sementara ​kita yang akan di HISAB atas segala sesuatu hingga perkara yang besar sampai dengan hal yang paling kecil.!!

Yang pertama lepas dari kita adalah nama kita ..
Saat kita meninggal dunia: Orang2 bertanya : ​​Dimana MAYATnya ?​​ Mereka tidak lagi memanggil kita dengan nama kita.. Nama kita tinggal kenangan belaka.

Ketika mereka akan mensholati, mereka bilang : ​​Bawa sini JENAZAHnya.!!!​​ Mereka tidak lagi menyebutkan nama kita.. Betapa cepat namamu hilang berlalu....​

Ketika mereka akan menguburkan kita , mereka berkata: ​Dekatkan MAYITnya.!!​ tanpa menyebutkan nama kita..

*Karena itu...*
Janganlah tertipu oleh kehormatan, status sosial dan kelebihan kelompok kita..!!
Jangan terperdaya oleh kedudukan, jabatan dan nasab keturunan kita...!!

​Alangkah sepelenya dunia ini... dan betapa besar apa yang akan kita hadapi...​

*Kesedihan orang atas kepergian kita ada 3 :*

1.Orang yang mengenal kita sepintas akan mengatakan: ​​Kasihan...!!​​

2.Teman dan sahabat kita akan bersedih beberapa saat atau beberapa hari, kemudian mereka kembali pada rutinitas dan canda tawa mereka..

3.Kesedihan mendalam di rumah...Keluarga kita akan bersedih sepekan... satu-dua bulan atau hingga satu tahun... Kemudian mereka akan meletakkan kita dalam album kenangan...

Demikianlah...
Kisah kita di antara manusia telah berakhir...

Kita hanya tinggal ​ALBUM KENANGAN​.

Kisah kita yang sebenarnya baru dimulai... bersama sesuatu yang nyata, yaitu: ​Alam Akhirat​

Telah lepas dari kita :
1.Ketampanan/Kecantikan
2.Harta, Rumah
3.Kedudukan/Jabatan
4.Anak
5.Istri/Suami

​Kehidupan kita yang sesungguhnya baru dimulai​

*Pertanyaannya sekarang adalah...?*

​Apa yang telah kita siapkan untuk kubur dan akhirat kita..? 
Ini adalah KENYATAAN yang akan terjadi dan perlu direnungkan...!​

​Check ibadah kita ... yang wajib dan yang sunnah​..
​Check Amal sholeh dan Sedekah​ kita ..
​Check perilaku dan tingkah laku kita ..

​Semoga kita semua menyiapkan bekal utk kehidupan yg kekal.. Dan Selamat di Akhirat..

Allah berfirman :

(وذكّر فإن الذكرى تنفعُ المؤمنين) 

"Dan berilah peringatan! karena peringatan itu bermanfaat bagi orang2 beriman"

Kenapa Mayit memilih: 
​"Sedekah"​ jika kembali ke dunia..? Sebagaimana firman Allah:

 رب لولا أخرتني إلى أجل قريب: فأصدق

​"Ya Allah! jika Engkau tunda ajalku sebentar saja, niscaya kita akan bersedekah"​
Mereka tidak mengatakan:
👉Niscaya kita akan Haji/Umroh..
👉Niscaya kita akan Shalat..
👉Niscaya kita akan Puasa..

*Para Ulama menjelaskan :* "Mayit hanya mengatakan Sedekah, karena dia melihat dampak sedekah yang sangat besar setelah kematian"

semoga Alloh senantiasa memberikan kemudahan kita untuk senantiasa bersedekah dan menerima amal jariyah kita bersama.. 
Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin.
_________________________
*Repost By :*
Wa.me/62877-3865-4523 
_Arief Hrd_ _*(BaitulMal FKAM).*_
_Forum Komunikasi Aktivis Masjid_

sutra untuk ibu

*Selembar Bahan Sutra untuk Ibu, Allah Ganti*
Islampos / Saad Saefullah 

IBU Yeni, seorang anggota DPR mengisahkan pengalamannya mengenai sedekah yang membawa keberkahan baginya. Kejadian ini dialaminya sekitar bulan Agustus tahun 2001 yang lalu. Saat itu ia mendapat undangan seminar di Sumatra Selatan.

Karena masih masa nifas dan membawa anak bungsunya yang kala itu masih berusia 35 hari, ia memutuskan membawa ibunya.

Bukan main senangnya sang ibu dibawa pelesiran naik pesawat. Maklum saja, tahun 1972 waktu naik haji, ia cuma naik kapal laut. Di pesawat tak henti ibunda tercintanya menyatakan kesenangannya naik pesawat.

“Alhamdulillah… kesampaian juga Ibu naik pesawat,” syukurnya. Yeni yang duduk di sebelahnya tersenyum.

“Coba Buya (ayah) masih hidup ya… dia pasti senang naik pesawat kayak gini,” tuturnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Yeni menoleh dan mengusap pundak ibunda tercintanya.

“Sudahlah Bu, Buya pasti sudah bahagia sekarang. Selama hidup Buya kan sangat baik, maka Allah pasti melimpahkan kebahagiaan padanya…”

“Yah…” Ibu menganguk-angguk, “Buya emang baik….” lanjutnya sendu.

Tidak lama kemudian mereka tiba di bandara dan diantar oleh panitia ke sebuah penginapan yang sederhana. Ibunya nampak sangat bahagia. Untuk menyenangkan hatinya, Yeni memesankan makanan kesukaannya.

“Dimakan, Bu…” kata Yeni. Ibunya mengangguk dan mulai makan dengan lahap.

Keesokan harinya saat Yeni ikut seminar, Ibu menjaga cucunya yang masih merah di penginapan. Seminar itu untunglah tidak begitu lama. Jeda makan siang, mereka diajak makan di sebuah restoran khas Sumatra Selatan. Konon restoran ini biasa ditongkrongi oleh para pejabat dari pusat.

Memang suasananya sangat asri, bertingkat dua, dan Subhanallah makanan yang tersaji juga terasa sangat nikmat.
“Pepes ikan dengan duriannya enak sekali, Yen…” Ibu memberikan penilaian seraya makan dengan lahap.

“Kalau di Tangerang, daerah kita durian cuma untuk Kinca teman makan ketan ya, ternyata buat pepes juga enak,” imbuhnya kemudian.

“Alhamdulillah… kita di sini jadi nambah ilmu kan, Bu?” balas Yeni tersenyum.

Selesai makan, mereka menuju penginapan lagi untuk berkemas. Ya, mereka harus kembali ke Jakarta hari itu juga. Sebelum berangkat, Yeni memeriksa sebuah bungkusan yang diberikan panitia saat seminar tadi.

“Subhanallah… bagus amat nih kain sutra?” desisnya takjub sambil menyidik bahan itu dengan teliti. Yeni bertekad akan menjahitnya setiba di Jakarta nanti.

Saking indahnya kain tersebut, di pesawatpun Yeni tak kuasa membayangkannya. Menjahitnya menjadi baju muslimah yang indah yang akan dikenakannya pada event-event tertentu. Tapi sejenak kemudian hati kecilnya berkata, “Berikan saja pada ibumu….”

“Bagaimana, ya…. bagus banget sih?” sekilas bathinnya tak rela. Rupanya syetan sedang merasuki niat baiknya.
“Sudah… kasih Ibu saja, supaya dia senang, kamu kan bisa beli nanti lagi…” hati kecilnya kembali berkata.

Sejenak Yeni merasa bimbang. Terus-terang saja, ia sangat ingin memiliki bahan itu untuk dirinya. Sudah dibayangkannya begitu manisnya ia dalam balutan baju berbahan sutra itu. Suaminya pasti memuji, anak-anaknya pasti juga bangga. Tapi…

“Ah, sudahlah biar untuk ibuku saja,” hati kecilnya memenangkan pergolakan bathin.
Maka Yeni memberikan kain sutra itu pada ibunya. Mata ibunya bersinar menerima pemberian itu. Paras bahagia yang tak bisa ditutupinya. Yeni tak menyesal memberikannya.

Sesampainya di Jakarta, Yeni kembali mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas yang menunggunya. Ia sudah tak teringat lagi kain sutra indah pemberian panitia seminar di Sumatra Selatan itu. Sampai dua hari kemudian seorang temannya kembali dari Malaysia dan membawa titipan dari teman Yeni, yang orang asli Malaysia.

“Apaan ini?” Yeni mengerutkan dahinya, menatap bungkusan yang diberikan temannya itu.

“Titipan dari teman Malaysiamu, aku nggak tahu isinya, buka aja gih…”

BACA JUGA: Nenek Buta Huruf Ditipu Tetangga, Rumahnya ‘Dibeli’ Rp300 Ribu

Tanpa menunggu lama, Yeni membuka bungkusan itu dan terbelalak,”Subhanallah bagus banget….” serunya takjub. Temannya pun ternganga.

Selembar bahan sutra yang lebih halus dan lembut warnanya.

“Benar-benar Allah Maha Besar…” Yeni berbisik pelan.

Kain sutranya telah digantikan oleh Allah dengan yang lebih bagus dan manis. Yeni kemudian teringat sebuah hadits Rasulullah Saw, bahwa kebaikan yang cepat mendapatkan balasannya di dunia adalah kebaikan kita kepada orang tua. []

Sumber : www.wisatahati.com

Poligami boleh atau bagaimana ?

KITA MENIKAH UNTUK IBADAH BUKAN UNTUK MEMUASKAN HAWA NAFSU DAN KEBANYAKAN SAHABAT NABI SAW ISTRINYA HANYA SATU SAJA
"Saya berpoligami.. dan saya menyesal telah berpoligami.. ” begitulah pengakuan Habib Ali Al-Jufri
Ketika berdialog dengan para aktivis wanita Mesir dalam acara ‘Momkeen’ yang ditayangkan secara live di stasiun TV CBC belum lama ini.
“Kenapa saya merasa perlu menceritakan pengamalan pribadi saya ini ? Karena saya rasa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan ‘hanya’ menyebutkan dalil-dalil dan pendapat para ulama..”
“Saya bukannya menafikan ada sebagian praktek poligami yang bisa berdampak positif, hanya saja ‘nafsu’ ini.
jika ia sudah terlanjur menginginkan sesuatu maka ia akan mencari-cari ribuan dalil dan alasan untuk membenarkan kemauannya.
Ia akan mencari ‘tameng’ sehingga seakan-akan apa yang ia lakukan adalah hal suci nan mulia, padahal tujuan utama ‘nafsu’ ini adalah memuaskan keinginan pribadi. ”
Habib Ali meneruskan penjelasannya, Khairi Ramadhan Sang pembawa acara dan 3 Aktivis wanita Mesir itu tampak serius menyimak..
“Waktu itu umur saya 22 tahun.. Dan saya berpoligami dengan alasan banyak syarifah-syarif
ah yang belum menikah.
Kali saja dengan menikahi sebagian dari mereka saya bisa ‘menjaga’ mereka di rumah saya, dan dengan itu saya akan mendapatkan pahala karena telah membantu mereka.. ”
“Namun kemudian saya berfikir.. Saya mengintropeksi diri dan bertanya pada diri saya : ” apakah niatmu itu benar-benar tulus.. ?
Jika memang begitu mengapa engkau tidak memberikan hartamu itu untuk lelaki lain yang memang layak menikahi wanita-wanita itu ?
Bukankah dengan itu kau juga akan mendapat pahala yang besar ?( Mengapa ‘harus’ dirimu yang menikahi mereka bukan orang lain ?)”
Pernyataan Habib Ali ini mungkin membuat banyak pihak terkejut, tapi tentunya bukan berarti beliau menolak syariat poligami.
Beliau tetap berpendapat bahwa poligami hukumnya ‘mubah’ atau bahkan dianjurkan dalam sebagian contoh kecilnya.
dalam acara Amant Billah, ketika berdialog dengan aktivis liberal Mesir Hala Diyab, beliau berkomentar :
“tidak ada yang salah dengan syariat poligami. hanya saja dari pengalaman pribadi saya, saya bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan pria di zaman ini tidak layak untuk berpoligami, termasuk saya sendiri.. ”
Pengakuan beliau ini menurut saya adalah sebuah sindiran akan banyaknya fenomena-fenomena unik poligami di zaman now ini. Sekarang banyak ustadz muda yang baru ‘viral’ dikit aja, dengan wajah lumayan, memiliki banyak jama’ah wanita, langsung saja ia memilih ber-poligami lalu berteriak-teriak :
” Sunnah.. ! Sunnah .. ! ” Ia menampilkan dirinya sebagai pahlawan dan penegak sunnah, toh padahal yang ingin ia bela dan ingin ia tegakkan adalah ‘Nganu’-nya sendiri.
Lebih miris lagi ia yang kesehariannya jauh sekali dari sunnah-sunnah Rasul : gak pernah Tahajjud, jarang sholat Dhuha, males-malesan puasa, tapi ketika ingin kawin lagi dengan berapi-api dia berkata : Sunnah.. ! Sunnah..!
Lagian siapa bilang Poligami itu Sunnah ?? Adakah dalil yang menyatakan bahwa mereka yang beristri banyak lebih tinggi derajat dan lebih melimpah pahalanya dari mereka yang hanya beristri satu ?
Nambah istri itu hukum aslinya adalah Mubah (boleh) sama seperti ketika kita makan di warung lalu kita minta nambah EsTeh atau sepiring bakso ! Syaikh Wahbah Zuhaily menegaskan bahwa menikahi satu wanita itu lebih utama, sedangkan poligami diperbolehkan dalam keadaan mendesak karena sebab-sebab tertentu.
Pada asalnya, Islam sama sekali tidak pernah ‘menganjurkan’ poligami apalagi mewajibkannya.
ﺇﻥ ﻧﻈﺎﻡ ﻭﺣﺪﺓ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻫﻮ ﺍﻻﻓﻀﻞ ﻭ ﻫﻮ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﻭ ﻫﻮ ﺍﻻﺻﻞ ﺷﺮﻋﺎ ﻭ ﺍﻣﺎ ﺗﻌﺪﺩ ﺍﻟﺰﻭﺟﺎﺕ ﻓﻬﻮ ﺃﻣﺮ ﻧﺎﺩﺭ ﺍﺳﺘﺜﻨﺎﺋﻲ ﻭ ﺧﻼﻑ ﺍﻻﺻﻞ ﻻ ﻳﻠﺠﺄ ﺍﻟﻴﻪ ﺍﻻ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺍﻟﻤﻠﺤﺔ ﻭ ﻟﻢ ﺗﻮﺟﺒﻪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﺣﺪ ﻭ ﻟﻢ ﺗﺮﻏﺐ ﻓﻴﻪ ﻭ ﺍﻧﻤﺎ ﺍﺑﺎﺣﺘﻪ ﻷﺳﺒﺎﺏ ﻋﺎﻣﺔ ﻭ ﺧﺎﺻﺔ
Senada dengan Syaikh Wahbah, Syaikh Al-Buthy juga berpendapat bahwa tidak seharusnya seorang lelaki menambah istri kecuali dalam keadaan gawat darurat.
Tentu saja saya kaget ketika tempo hari membaca fatwa salah seorang ulama salafi-wahhabi yang menyatakan bahwa : siapa yang meyakini bahwa menikahi satu wanita lebih utama dari poligami maka ia dihukumi KAFIR !!!
Pada intinya poligami itu sama seperti rindu.. Sama-sama berat. Ia yang tidak bijak dan adil dalam berpoligami akan dipermalukan Allah kelak di hari kiamat karena ia akan dibangkitkan dengan tubuh miring sebelah.
ﻣﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻪ ﺇﻣﺮﺃﺗﺎﻥ ﻓﻤﺎﻝ ﺇﻟﻰ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻭ ﺷﻘﻪ ﻣﺎﺋﻞ
” Barang siapa yang memiliki dua istri, lantas prilakunya condong pada salah satunya, maka kelak di hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan tubuh miring sebelah.. ” (HR. Tirmidzi)
Menurut Habib Ali Al-Jufri, seorang yang ingin berpoligami harus memiliki kemampuan yang sempurna untuk menguasai keadaan, mengatasi konflik, dan mengobati ‘luka’. dan tidak sembarang orang memiliki kemampuan seperti itu.
Tak heran, ketika ditanya mengapa anda tidak mempunyai banyak istri layaknya ulama-ulama lainnya ? Syaikh Wahbah Zuhaily, ulama besar asal Suriah itu menjawab :
” Seandainya boleh dan bisa tergambarkan menikahi ‘setengah’ wanita, maka aku akan menganjurkan para pemuda untuk menikahi setengah wanita saja ! Ya setengah ! Bukan satu.. ! ”
Punya satu istri saja tanggung jawabnya sudah sebegitu beratnya, gimana mau mikir nambah dua atau tiga ? Mungkin itu yang ada dalam fikiran Syaikh Wahbah ketika menjawab pertanyaan itu..
Masih menukil kalam Habib Ali :
” meskipun mendengar ribuan dalil, nash-nash dan hikmah-hikmah syariat poligami, seorang perempuan tak akan pernah rela jika suaminya menikah lagi, ini adalah fitrah asli setiap wanita.. Ini adalah tabiat setiap wanita dan sudah sewajarnya mereka seperti itu..
Sayyidah Aisyah saja merasa cemburu kepada Sayyidah Khadijah padahal ia sudah wafat bertahun-tahun lamanya.. ?
Disini Habib Ali seakan memberikan sindiran keras kepada mereka yang udah mbawa-bawa ‘sunnah’ eh malah menuduh istri yang tidak rela dipoligami sebagai istri yang cacat iman dan kurang berkah, mereka mengukur lemah-kuat keimanan istri hanya dari kesediaannya untuk dimadu atau tidak.
Mereka yang mempunyai pandangan seperti itu seakan-akan sedang ingin membunuh tabiat dan ‘fitrah’ asli dari seorang wanita..
” hanya saja.. ” Habib Ali menuturkan.. ” sering kali apa yang ditetapkan syariat itu bertentangan dengan keinginan kita, terasa berat oleh nafsu kita.. ”
Beliau lalu menjelaskan bahwa Islam tidak pernah meminta seorang istri untuk tidak cemburu, atau memerintahkan istri untuk rela begitu saja ketika dimadu suami.
Cemburu, tidak rela, jengkel, marah itu adalah hal yang wajar. Hanya saja jangan sampai hal-hal itu membuat seorang istri mengingkari suatu syariat yang diperbolehkan dalam islam. Akal juga harus bermain disini, bukan hanya nafsu dan perasaan.
# PERSIAPAN MENUJU AKHIRAT #
DUNIA SEMENTARA AKHIRAT SELAMANYA

DR ZAKIR NAIK Dlm Suatu Ceramah

Ummiku Sayang :
Dari: Dr Zakir Naik.

Mohon baca sampai habis.

Kita selalu meluangkan sedikit waktu utk Allah. Tapi DIA selalu menyayangi dan merahmati kita. Allah sentiasa bersama kita. Mari kita luangkan waktu 30 menit saja untuk mengingat ALLAH. Bukan berdoa, tetapi memuji-NYA.

Hari ini, mari kita sebarkan pesan ini ke seluruh dunia. Maukah anda melakukanya? 
Jgn simpan pesan ini.

Kenapa kita mengantuk apabila SHALAT malam? Tapi bisa terjaga sepanjang malam untuk berwhatsapp.

Kenapa kita bosan bila lihat & baca AL-QURAN? Tapi bisa berjam2 lamanya baca whatapps

Kenapa kita sering mengabaikan dan menghapus pesan2 yang berhubungan dengan agama? Tapi selalu menyimpan dan mengirimkan pesan2 yang bercanda.

Kenapa Masjid makin sepi? Tapi mall2 semakin ramai, sedangkan mall adalah tempat yang paling dibenci Allah.

Kenapa kita selalu me nyebut2 nama artis2? Tapi kita susah sekali untuk mengngat ALLAH.

Ingatlah; Allah (SWT) Berfirman : *_Jika kamu berpaling dari aku di depan kawan kamu, Aku akan berpaling dari kamu pada Hari Kiamat kelak._*

Jika seseorang menutup satu pintu, Allah akan membukakan dua pintu; Jika Allah membuka pintu untuk kamu, kirimkanlah pesan ini termasuk kepada saya.

Dikatakan bahwa apabila Malaikat Maut mencabut nyawa dari jasad kita. Itu satu pengalaman yang sangat menyakitkan.

Dikatakan juga bila manusia dibangkitkan pada Hari Kiamat, rasa sakit saat roh dicabut dari jasad masih terasa.

*Maka, ALLAH menyuruh kita utk membaca AYAT KURSI setiap habis Shalat fardhu.*

*Dikatakan barang siapa yang membaca ayat kursi setiap selesai Shalat fardhu, roh nya akan dicabut seperti mengambil sehelai rambut dalam tepung.*

Bayangkan betapa ringannya rasa ITU,
Masya-Allah!  Semoga Allah menyelamatkan kita dari rasa sakit itu dan semoga DIA mencabut nyawa kita dgn iman di hati dan selamatkan kita dari Azab. Aamiin ya rabbal 'alamiin...

Ini yang biasa kita lakukan....
Banyak diantara kita yang masih berbicara disaat  Azan dikumandangkan...

Nabi Muhammad(SAW) bersabda :
*Berhenti melakukan apapun juga disaat Azan dikumandangkan termasuk saat kita sedamg membaca Al-Quran.*

*Barang siapa yang berbicara di saat Azan dikumandangkan orang itu tak akan dapat mengucap Kalimah Shahadat sewaktu dia dalam kondisi sakratul maut.*

BACA DOA INI.....

 *Allahumma- inni-ala- zhikrika-wa Shukrika-wa-husni-ibaadatika.* 

Doa yg  bagus sudah dikirim kan kepada anda. Apa yg akan anda lakukan dgn Doa ini. Bayangkan kalau 1000 org membaca doa ini karena anda.

Masya Allah!!

Bangunlah apabila anda mendengar AZAN, sama seperti anda bangun apabila mendengar lagu di nada dering anda.
 
Bacalah AL-QURAN dengan tartil seperti anda membaca pesan di WA anda.

Takutlah kepada ALLAH, seperti anda takut akan menghadapi kematian.

Ingatlah akan kematian seperti anda mengingat NAMA anda sendiri.


⚠ 80% orang tidak akan mengirimkan pesan ini.
Sekarang terserah anda.

_SEMOGA ANDA TDK TERMASUK KEDALAM ORANG 80 % TSB.

Rabu, 27 November 2019

LELAKI ES

*LELAKI ES*

4


Han mengantarku pulang ke rumahnya. Di perjalanan ia membisu saat kubertanya kapan ia mencuri cium dariku? Ia diam dan serius sekali mengendarai motornya, seperti sedang mengejar waktu. Setelah sampai, ia langsung pergi lagi. ‘Huf, dia bersikap dingin lagi, dasar! Kalau besok-besok aku minta cium dan nggak dikasih lagi? Awas aja, aku yang akan nyosor duluan. Huh! Kibas poni.’ Ririn tak tahu malu ... agh! Aku mengacak rambut sendiri.
Tak lama kemudian mama tiba. Ia mengenakan kebaya dan jilbab yang rapi. Tampaknya baru saja dari hajatan. Papa memarkirkan motor di teras samping rumah.
“Halo, Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya mama. “Di hajatan tadi ramai yang cerita tentang perampokan di pasar. Mama langsung ingat kamu.”
“Alhamdulilah nggak apa-apa, Ma.” Lalu sambil berjalan ke dalam rumah, kuceritakan semua yang kami alami di pasar tadi. Mama menatapku dengan serius dan terkadang menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita ayu itu menarik kursi untukku sambil tetap mendengarkan dengan antusias. Tentu saja bagian minta cium tidak kuceritakan. Terakhir, ia mengusap kepalaku dengan lembut.
“Ya, udah, nggak apa-apa. Yang penting, semua yang kamu dan Han lakukan harus dengan perhitungan yang matang.”
Syukurlah mama tidak menyalahkanku. Aku tersenyum menatapnya. Sepasang manik mata memancarkan kelembutan yang sudah lama tidak kudapatkan.
“Kamu istirahat saja dulu, mama mau ganti baju ... atau mau minta mama melakukan sesuatu?”
Hmm, mungkin ini saatnya aku melakukan misi. Pertama-tama mencari tahu tentang masa lalu suamiku yang super dingin itu.
“Pengen liat album foto ‘jadul’-nya Han, dong, Ma!” pintaku.
“Oh ... boleh.” Mama sedikit tertawa. “Sini!” ajaknya. Aku mengekor mama menuju sebuah bufet. Ia membuka salah satu loker dan memberikan beberapa album foto.
“Mama salin bentar, nanti ke sini lagi,” ucapnya.
Aku mengangguk.
Sambil memijat tangan kanan yang masih sakit, aku membalik tiap lembar album kenangan itu. Foto bayi-bayi mungil sampai balita tertera. Sayang aku tidak bisa membedakan antara Han dan adik-adiknya, mereka sangat mirip. Nah, kalau foto yang sudah bersekolah, aku bisa mengenali Han.
Aku terkikik saat membandingkan semua fotonya. Suamiku itu jarang sekali tersenyum. Mungkin tegang kali ya di depan kamera?
Mama tiba dan mengajakku ke halaman samping yang asri, hawanya sejuk karena pohon yang rindang. Kami membawa album-album foto itu bersama.
Perlahan mama menceritakan tiap foto yang membawanya ke masa lalu itu dengan runut dan suara yang lembut.
“Han tumbuh dengan didikan militer ayahnya. Ditambah lagi kedua adiknya cowok semua. Jadilah mereka kompak main bertiga aja. Sampai gede, ngumpulnya ya itu-itu aja. Punya temen juga cowok semua. Paling temen cewek tetangga sini yang suka main ke rumah.”
“Han nggak pernah punya pacar, Ma?” Aku penasaran.
“Waktu SMA, sih, kayaknya pernah, ya? Tapi cinta-cinta monyet gitu.”
Aku manggut-manggut. Jadi, Han normal, dong. Dia begitu karena lingkungan keluarga yang didominasi pria.
“Han berhenti dekat dengan perempuan saat pacar Martin meninggal tertembak,” ujar mama menyebutkan nama adik laki-laki Han.
“Tertembak?”
“Waktu itu mereka lagi jalan-jalan ke pantai, sama Han dan teman mereka yang lain. Beberapa orang menyebut nama Han dengan bawa senjata, mungkin ada penjahat yang dendam sama dia. Terjadi tembak-menembak sampai cewek itu kena. Setelah kejadian kami baru tau kalau penjahat itu mengira pacar Martin adalah pacar Han.”
Mama menarik napas dalam. “Melihat kesedihan adiknya, Han pun ikut terluka. Sejak itu ia nggak pernah dekat sama cewek mana pun. Bahkan saat adik-adiknya sudah bisa melupakan kejadian itu dan punya pacar lagi, Han masih juga sendiri.”
‘Nggak diragukan lagi suamiku benar-benar lelaki, kalau begitu. Ceritanya sedih tapi aku mendengarnya dengan perasaan senang karena lega. Ah, nggak empati sekali aku ini?’
“Sampai umurnya 30, kami menjodohkan Han dengan banyak gadis, tapi semua ditolaknya.”
“Benarkah?” Wah, ternyata trauma itu sangat mendalam di hati Han.
“Ya, mama dan papa sempat khawatir jangan-jangan Han nggak mau menikah selamanya. Mungkin dia masih merasa bersalah pada cewek yang meninggal itu. Padahal keluarga mereka sudah memaafkan dan hubungan kami cukup akrab.”
‘Terus, kok dia mau nikah sama aku? Jeng jeng! Jangan-jangan cuma karena kewajiban menuruti perintah orang tua, lagi? Mande ... kasihan sekali putrimu ini. Padahal aku sudah sangat terpesona padanya.
“Dia langsung mau saat kami menyebutkan nama Ririn,” ujar mama seraya terseyum.
‘Tuh, kan? Dia hanya menjalankan kewajiban biar nggak jadi bujang tua? Aih, sedihnya.
Mama terlihat membolak-balik halaman album. Lalu, ia berhenti di satu foto dan menunjuknya.
“Kamu tau siapa anak ini?”
Aku mendekat dan mengamati. Itu foto balita cewek. Aku menggeleng cepat dan memandang mama minta penjelasan.
“Ini Ririn ...,” ucap mama sedikit terkekeh.
“Masa? Ririn nggak inget pernah foto bareng Han?” selain Han ada juga kedua adiknya dalam foto itu.
“Kami pernah datang waktu Mande-mu meninggal, Sayang,” Mama mengusap kepalaku. “Saat itu usiamu empat tahun, kamu nggak inget, ya?”
Aku menggeleng lagi. Kemudian mengamati foto itu lebih lama.
“Jadi waktu Ririn umur empat tahun, Han sudah setinggi ini?” tanyaku takjub. Beda umur kami jauh atau badannya yang bongsor, ya?
“Ah ... iya, Han waktu itu sudah kelas lima SD.” Mama sedikit tergelak.
Jadi begitu? Berarti Han pasti ingat momen ini, dong, ya? Berarti dia udah lama kenal aku? Pastinya dia punya kenangan tentang kami, sementara nggak ada yang kuingat sama sekali. Huh, curang.
Kabarnya, sih, papaku dan papa Han bersahabat. Tapi tempat tugas memisahkan. Mungkin sesekali masih bertemu dan saat itu aku masih kecil. Karena sejak yang bisa kuingat, keluarga kami tidak pernah bertemu kecuali saat melamar waktu itu.
Aku dan papa hidup berdua sampai papa menikah lagi, lalu aku memilih hidup sendiri.
Sekarang ... aku seperti punya mama lagi.
“Lama banget Ririn nunggu buat bisa ngerasain punya mama lagi,” ucapku dengan mata ditutupi kaca-kaca.
“Benar, Nak. Mama sekarang adalah mamamu juga,” ucap mama sambil menggenggam tanganku, lalu aku tak bisa menahan untuk tidak memeluknya.
***
Malam itu Han belum juga pulang. Aku menunggu di kamar sambil ... biasa lah, ‘chat’ dengan teman di grup. Dengan berapi-api aku mengabarkan pada mereka bahwa Han-ku normal.
[Sekarang tinggal menunggu bukti, dong, ya? Berapa lama kalian nikah? Empat hari? Oke masih bisa dimaafkan, lah ....] ketik Risa.
[Oke!] jawabku dengan ... sedikit ragu sambil menggigit bibir. Mampukah aku menaklukkan dinding es itu? Kadang kalau lagi nyusun rencana kayaknya udah berani ... aja, tapi pas di depan orangnya ... alamak gemeter kaki ini, langsung keringet dingin.
[Harus genit, ya, genit! Ingat!] tulis Tina.
[Jangan kasih cewek lain lebih genit dari kita sebagai istri!] balas Yeoni.
[Hidup, istri sah!]
[Hidup!]
‘Well, semangat sudah menggebu, nih. Tapi apalah daya kalo ‘laki’-nya nggak ada? Emang aku harus genit ke cicak-cicak di dinding kamar ini?’
Pintu diketuk, tapi bukan suara suamiku yang menyapa. Mama muncul dengan seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk.
“Ini, Mbok,” ucap mama pada wanita itu “Mama turun dulu, ya,” lanjutnya.
Lho?
“Mbok ini siapa?” tanyaku heran.
“Saya tadi disuruh Nak Han buat mijet istrinya, katanya habis berantem sama penjahat, takut ada yang kecetit, gitu,” jawab mbok itu sambil tersenyum.
Hah? Ah, Han, aku mengulum senyum, sulit melukiskan perasaan ini.
‘Nggak apa-apa, deh, orangnya nggak pulang malam ini, asal dia inget sama aku.’ Aku tersenyum lagi sambil bersiap-siap dipijat Si Mbok ini.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah mandi dan rapi. Tapi Han belum juga pulang. Aku turun menyapa mama yang sedang memasak. Detik kemudian membantunya dengan kemampuan yang pas-pasan ini.
Selesai masak, mama menarikku ke kamarnya.
“Mama dari dulu pengen ... banget ngurusin rambut anak cewek. Anak mama kan cowok semua.”
Ia mendudukkanku di depan meja riasnya.
“Rambu Ririn hitam dan lebat, dikepang dua pasti cantik,” ujarnya.
Aku diam saja. Jujur seumur hidup belum pernah ngerasain rambut disisir ibu sendiri. Mataku menghangat, ada yang memaksa keluar lewat celah mata, tapi sebisanya kutahan.
Mama membagi dua rambutku dan meraihnya sedikit demi sedikit dari sekitar kepala bagian kanan.
“Ini namanya kepang seribu.” Mama tertawa senang. Jemarinya lincah sekali. Terbayang berapa tahun ia menahan diri untuk tak melakukan hal ini.
Tangan mama pindah ke kepala bagian kiri, lalu kurasakan di bagian tengah ia menyatukan rambutku. Bagian bawahnya sedikit lebar, sebab dari depan sini tampak terlihat sedikit di antara leher.
Mama mengikat ujungnya, lalu aku merapikan anak rambut. Wanita di belakangku kemudian pindah ke depan dan menyuruhku sedikit berdandan.
“Kalau make up-in, mama nggak bisa, Ririn sendiri aja!” ucapnya seraya tersenyum.
Selesai ....
“Cantik sekali!” ujar mama. “Eh, satu lagi, mama pengen kamu pakai baju ini!” Wanita itu menuju lemari dan mengambil satu baju berwarna putih. “Mama pernah beli tapi nggak tau mau dikasih siapa, suka aja,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengenakannya di kamar mandi. Bajunya berenda di bagian kerah, cukup lebar sampai memperlihatkan pundakku. Roknya menutupi sampai ke bawah lutut.
“Cantik sekali ...,” puji mama setelah aku keluar. “Tapi bajunya dipakai di rumah saja, ya ... yuk, turun!” ajak mama kemudian.
Setelah makan bertiga dengan papa, aku menyiram bunga di halaman depan, sementara mama merapikan tanamannya. Saat itu suara motor terdengar, lalu berhenti di depan pagar. Suara Han terdengar bersama kedua adiknya.
Aku berdebar, menantikan reaksi suami dingin itu saat melihatku. ‘Gimana nggak berdebar-debar? Secara penampilanku ini lain dari biasanya, gitu, loh. Rambutku seperti gadis-gadis Eropa zaman dulu. Bajunya juga bagus ... banget. Pasti kali ini Han terkesima dan nggak sabar menyentuhku. Aku terkikik.
“Assalamulaikum!”
“Whao ... cantik banget, Kak! Pasti kerjaan mama nih, ya?” Adik Han yang memujiku. Ia lalu mendekati mama dan mencium pipi wanita itu.
Aku menanti pujian dari Han sambil menunduk dan mengulum senyum. ‘Tapi ... lama banget nggak keluar suara?’
“Cantik, nggak?” Akhirnya kuberanikan diri bertanya dengan mata sedikit berkedip-kedip walaupun sedang tidak kelilipan.
“Lumayan,” jawabnya datar, kemudian berlalu masuk ke rumah.
What? Lumayan itu kalo aku ngasih nilai kesiwa berarti C? Masa sudah abis-abisan gini, lumayan, sih? Pelit amat.
Melalui jendela kaca, kulihat kakak beradik itu menuju meja makan. Beberapa menit setelah menyiram bunga aku mendekati wastafel.
Han masih di meja makan saat aku mencuci piring. Posisiku membelakanginya. Sebentar-sebentar aku menoleh ke arahnya, berharap Han sedang tertangkap basah sedang menatapku. Tapi ... onde mande, tidak sekali pun matanya menatapku. Pengen menyelam ke air cucian piring ini deh, rasanya. Biarlah aku menghilang bersama busa sabun cuci karena harga diriku dicampakkan. Hiks!
Tiba-tiba aku ada ide. Kuraih gawai di saku baju dan memasang kamera depan. Lalu, menggeser sedikit badan dan meletakkan gawai di depanku, semoga Han tidak menyadari benda ini. Setelah itu aku menggeser tubuh dan melanjutkan mencuci piring dengan hati-hati, supaya gawaiku tidak terkena cipratan air.
Sambil mencuci dengan perlahan aku memperhatikan layar gawai yang menyorot tepat ke wajah suamiku di belakang sana. ‘Hohoho ... lihat matamu itu, Sayang ... bibirmu bisa saja bilang lumayan, tapi matamu jelas tak bisa berbohong, kau tak berhenti menatapku sambil makan kacang!’ Aku puas, Esmeralda ... puas ... sekali, sambil tertawa lebar seperti Mak Lampir, tapi di dalam hati.
Lalu ... dua atau mungkin tiga menit kemudian sepertinya Han menyadari gawaiku. Matanya membulat dengan mulut ternganga. Tepat saat itu aku membalikkan badan dan mengedipkan sebelah mata padanya.
‘Ting!’
Han tersedak kacang dan cepat-cepat mencari air minum. Hahaha ... berhasil! Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalmu, suamiku. Hmm ... tunggu saja pulang nanti, akan kukeluarkan jurus untuk menggodamu. Jika tak mempan jurus rayuan, akan kukeluarkan jurus karate. Hahaha, aku tertawa jahat.
“Sayang, kita pulang siang ini, ‘kan?” tanyaku sambil mengerling. ‘Ririn ... pede banget sih kamu manggil dia sayang sayang segala? Dia aja nggak pernah? Biar aja, memang aku sayang beneran, kok!’ Dua sisi hatiku saling bersahutan.
Han mengangguk sambil mengelap dagunya yang basah. Sepertinya ia tersedak dua kali, tadi kacang, sekarang air. Mungkin karena aku memanggilnya ‘sayang.’ Aku terkikik.


_Bersambung....._

LELAKI ES

*LELAKI ES*

3

Kotak berpita itu masih menarik perhatianku saat gawai di atas meja berkedip-kedip. Risa mengirim sebuah gambar hasil capture profil facebookku.
[Bukan Ririn banget deh, ganti PP model begini!] ketik Risa.
[Kamu kenapa, Rin?] tanya Yeoni.
[FBmu ada yang nge-hack, ya?] Tina ikut menimpali.
[Iye ... di hack laki gue!] balasku sambil berjalan ke ruang tengah. Semoga dengan mengalihkan pandangan pada kotak, yang seolah punya mata dan melotot itu, aku bisa melupakan sejenak apa isinya.
Risa dan Tina menertawaiku. Sementara Yeoni bertanya.
[Kok, bisa? Ceritain, dong!]
Lalu kuceritakan kisah dari mulai bermain basket sampai video yang diunggah Riko.
[Han bilang aku genit!] Aku cemberut, sedih mengingatnya.
[Kenapa, coba, dia ganti PP pakai foto balita kribo itu? Bukannya foto kami berdua, atau foto dia sendiri ... Biar kayak orang-orang yang baru nikah gitu. Biar semua pada tau, aku miliknya dan dia milikku, jangan ganggu dia karena dia istriku. Ini enggak! Dia tuh nggak romantis banget tau nggak, sih? Nyebelin!] Aku mengetik sambil memajukan bibir. Masih kesal.
[Iya, memang, tapi lucu juga, sih! Wkwkwk] jawab Risa. Tina pun ikut-ikutan mengetik emot tertawa.
Sepertinya mereka sangat setuju bila Han memang seorang yang tidak romantis. Huh, aku jadi penasaran seromantis apa suami mereka?
[Jangan suudzon, dulu, dong, Rin! Dia bukan nggak romantis. Tapi ... coba pikir deh. Orang yang punya pekerjaan seperti dia cenderung menutup diri di dunia sosmed. Itu buat apa? Buat keamanan orang-orang terdekatnya. Han punya banyak musuh di luar sana, dia pasti nggak akan pasang PP kalian berdua. Itu semua buat ngelindungi kamu, Rin!]
Aku menatap layar gawai dengan takjub. Luar biasa pemikiran sahabatku ini.
[Masa?] Bibirku sedikit tertarik mendengar asumsi Yeoni. Jujur saja aku berharap itu benar.
[Percaya, deh sama aku ....] balas Yeoni.
Aku mengirimnya emot cium bertubi-tubi untuk Yeoni. Ah, mudah-mudahan saja itu benar.
Aku menunggu Han sampai malam sambil menonton televisi di ruang tengah. Dress polkadot warna hitam putih kukenakan. Di luar aku sudah sering memakai pakaian olah raga. Wajar aku ingin terlihat ‘girly’ di rumah. Aku juga berdandan. Nasib baik jika impian mereguk surga malam ini kesampaian. Aku terkikik geli.
Sampai tengah malam Han belum juga pulang dan mataku sudah sangat berat. Aku menguap berkali-kali dan akhirnya menyerah pada kantuk yang tak tertahankan.
Sepertinya semalam aku tertidur sangat nyenyak sampai-sampai tak bermimpi apa pun. Saat membuka mata dan mengumpulkan keping ingatan, aku tiba-tiba tersentak dan mengambil posisi duduk. Meraba tempat berbaring yang empuk dan selimut yang menutupi tubuh. Aku berada di kamar, bukan di sofa!
Han sedang duduk membelakangiku di kursi dekat jendela. Sebuah cangkir tersaji di atas meja di sebelahnya.
“Han?”
“Kamu sudah bangun?”
Wajahnya cerah sepertinya sudah mandi, pakaiannya pun sudah rapi.
“Maaf semalam aku ketiduran,” kataku.
Han hanya tersenyum tipis dan membuang pandangan ke arah jendela.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bagaimana bisa aku sampai ke tempat tidur ini? Hmm ... pasti Han yang menggendongku, kan? Aah ... bodohnya kenapa semalam aku ketiduran. Momen yang kunantikan jadi terlewat. Aku memukul-mukul kepala sendiri.
“Makasih, ya udah mindahin aku ke kamar ini.” Aku menunduk dan mengulum senyum. Malu sekaligus ... apa ya namanya? Terlalu senang? Sambil membayangkan bagaimana tubuh Han yang tinggi mengangkat diriku yang mungil dan tengah tertidur. Mungkin saat itu aku sangat imut dengan rambut tergerai dan lekuk-lekuk tubuh terlihat jelas. Pasti Han terkesima melihat kecantikanku. Aku mengulum senyum untuk ke sekian kali. Ternyata Han perhatian juga ....
“Kamu jalan sendiri kok sambil merem,” jawab Han sambil berlalu dengan wajah datar dan tak menatapku sama sekali.
“Apa? Mana mungkin? Mama papaku nggak pernah bilang aku bisa berjalan sambil tidur!” Ah, memalukan sekali kalau itu sampai terjadi. Pakai bilang terima kasih segala lagi, akunya. Ugh!
“Ya, wajar lah nggak tau, kamu kan tidur di kamar sendiri!” Han berjalan dengan santai mendekati pintu.
“Nggak mungkin!”
“Satu lagi, kamu tu ngoroknya kenceng banget.” Setelah mengatakan itu tubuhnya hilang di balik pintu.
“Agh ... Mande! Masa sih?” Aku ‘misuh-misuh’ di atas kasur. Bayangan wajah imutku saat tidur berganti dengan mulut menganga dan suara dengkur yang keras. Ririn! Kamu memalukan. Aku membenamkan kepala di atas bantal.
‘Pantas saja suaimu ‘illfeel’ nyentuh kamu, boro-boro ngajak ML .... Sangat-sangat nggak anggun kamu!’ Aku mengumpati diri berkali-kali.
“Hei, katanya mau ke rumahku, ayo siap-siap.” Han berdiri di pintu sambil tersenyum, suaranya juga terdengar lembut. Jangan-jangan dia ngintip aku dan merasa kasihan, lagi?
“Baiklah ....” Aku beringsut turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
***
Rumah Han besar bercat putih. Halamannya luas ditumbuhi rumput gajah, aneka bunga digantung di dinding dan di susun dalam pot dekat pagar. Ada juga yang merambat. Terlihat pemiliknya rajin mengurus taman ini. Nuansanya klasik zaman dulu, peninggalan Belanda. Kata mereka –waktu melamarku dulu— buyutnya Han orang Belanda, mungkin itu yang menyebabkan Han jangkung. Begitu pula kedua adik laki-lakinya yang menyambut kami di meja makan.
“Halo, Han!” Kedua adik Han melambaikan tangan dari jauh kemudian berdiri melebarkan kedua tangannya.
Mereka berambut cepak. Entah dari mana hari Sabtu ini mengenakan seragam. Ya, keduanya juga abdi negara seperti Han, hanya saja warna seragamnya beda. Ketiganya berpelukan, terlihat akur, mewakili akurnya instansi mereka di negara ini. Adem melihatnya.
Papa Han turun melawati tangga menyambut kami, lalu Mamanya muncul dari arah dapur. Keduanya memeluk dan mencium keningku. Mereka sangat hangat. Kenapa anaknya dingin, ya?
“Mama sudah masak masakan spesial buat anak sulung Mama dan menantu paling cantik di keluarga ini!” Pujian wanita ayu khas Jawa itu membuat senyumku melebar, rasanya pipi menghangat. Andai Han yang mengucapkan aku pasti sudah guling-guling di lantai saking bahagianya.
“Ayo kita makan!” ajak papa Han yang mirip sekali dengan ketiga putranya, hanya saja warna rambut sedikit pirang.
Di meja makan, Han dan kedua saudaranya sering sekali bercanda. Aku berkali-kali melihat Han tersenyum memperlihatkan giginya. Ah, aku suka senyum itu yang sangat jarang kudapatkan saat berdua dengannya.
“Ririn ulang tahun hari ini,” ujar Han pada anggota keluarganya.
“Oh, ya? Selamat ulang tahun, Sayang, kok nggak bilang, sih? Mama bisa buatkan kue spesial buat istrimu!”
Kami hanya tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Kak!” ucap kedua adiknya dan papa juga menyelamatiku.
Setelah makan siang, Han mengajakku ke halaman samping rumah. Ada meja bulat dengan dua kursi. Ia tiba belakangan sambil membawa kotak berpita yang aku lihat di kamar kemarin. Ternyata benar itu untukku, apa ya isinya?
“Selamat ulang tahun, bukalah!” ujarnya datar.
Ucapan yang sangat biasa, huh, dasar Han, tidak pernah bisa romantis!
Aku membuka dengan hati berdebar. Ada apa di dalam kotak ini. Beberapa detik kemudian ... Apa ini? Buku semua? Mungkin ada kali tiga lusin.
Ku bolak-balik setiap buku, ternyata ini kumpulan puisi semua. Oh ... Han, bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku ingin puisi buatanmu sendiri, satu lembar saja cukup! Aku mengeluh dalam hati, tapi tak menampakkannya, takut Han kecewa. Setidaknya dia sudah berusaha. Aku tersenyum kecut.
“Maukah bacakan satu puisi?” Akan kuanggap itu dari hatimu untukku.
“Ehm ... baiklah,” jawab Han dengan ekspresi sama dengan saat aku melihat lalat.
Han memilih buku, lalu berdiri. Detik kemudian ia membaca judulnya. Suaranya ... keras, sih ... tapi? Astaga, Han, kita tidak sedang lagi di lapangan memperingati upacara hari kemerdekaan. Sumpah demi apa? Lelaki ini membaca judul dengan nada pemimpin upacara memberi aba-aba penghormatan: ‘kepada inspektur upacara, hormaaat, grak!’ ... begitu kira-kira. Aku menunduk sambil menggigit bibir. Selanjutnya ia membacakan isi puisinya seperti sedang membaca teks pembukaan UUD 1945. Sangat sempurna.
Aku bertepuk tangan dengan tidak ikhlas sambil tersenyum terpaksa. Sangat salah meminta han menulis puisi dan membacakannya untukku. Isi puisi yang romantis tidak sampai ke pendengarnya.
Dari balik kaca jendela, kedua adiknya dan Mama ikut bertepuk tangan dan memberikan jempol pada Han. Suamiku itu tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya dia sendiri ragu jika pembacaan puisinya layak mendapatkan tepukan yang ‘gemuroh.’ Ah, Han-ku ini ....
Lelaki itu duduk. “Maaf, ya, aku nggak bisa nulis sama baca puisi. Aku udah minta kamu ganti hadiahnya tapi kamu nggak mau,” ujarnya menatapku.
“Nggak apa-apa, kok.” Aku tersenyum. “Bunganya mana?”
Wajah Han sepertinya terkejut, apa dia lupa?
“Ini halaman mama banyak bunganya, kamu pilih aja, nanti aku petikkin!” ujarnya kemudian.
“Han!” Aku cemberut. “Kamu nih bener-bener nggak romantis, deh!” Menyebalkan.
Han diam sejenak, lalu ia menoleh padaku. “Ya udah, ayo aku belikan, kamu pilih sendiri.”
Setidaknya itu cukup menghiburku. Baiklah ....
“Jangan pakai gaun, ganti celana panjang aja, di sini daerahnya rawan kejahatan,” ujar Han. Aku mengangguk.
***
Kami mengendarai motor milik adik Han. Kali ini jaketnya tidak terlalu tebal, tapi aku sedang malas buat ‘nempel-nempel.’
Kami tiba di area pertokoan. Han menghentikan motornya di depan toko bunga. Halaman depan toko penuh aneka bunga demikian juga bagian dalamnya yang dilindungi dinding kaca.
Aku memilih di halaman, Han memperhatikan dari belakang. Sebenarnya aku tidak terlalu suka bunga. Memintanya dari Han agar ada sesuatu yang beda dari bunga yang biasa itu. Kalau memilih sendiri rasanya jadi biasa saja, tidak spesial. Tapi ... lumayan lah dari pada tidak sama sekali.
Kami terkejut saat mendengar suara tembakan di seberang jalan. Pecahan kaca menyusul di antara rentetan suara tembakan. Itu toko emas! Kaca etalasenya pecah oleh dua orang yang membawa senjata.
Han berdiri di depanku dan melindungi dengan sebelah tangannya.
“Tunggu di sini, jangan ke mana-mana!” Wajahnya tegang menahan bahuku hingga aku berjongkok di antara etalase kayu dan pot bunga. Banyak orang yang melakukan hal sama.
Kulihat Han mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan menyelinap di antara dinding bangunan. Dari sini aku bisa melihat kawanan perampok itu ada empat orang, dua orang lagi di atas motor.
Dadaku berdegup kencang, khawatir terjadi apa-apa pada suamiku. Apalagi kami belum sempat malam pertama? Lho? Apa-apaan aku ini? Tapi sumpah, aku khawatir sekali. Merasa tidak berguna sebagai istri jika hanya berdiam diri di sini. Buat apa bertahun-tahun ikut karate sampai meraih sabuk hitam. Aku harus menolong suamiku!
Han sedang membidik seseorang yang memasukkan emas-emas itu ke dalam tas. Pemilik toko terdiam di depan todongan senjata oleh perampok yang satu lagi. Dua orang di atas motor berjaga sambil sesekali menembak ke arah sembarang. Semua orang tiarap, bersembunyi takut terkena peluru perampok itu.
Han menembak penjahatnya. Hanya dalam hitungan detik ia mendapat balasan yang bertubi-tubi, tas dari toko emas terlempar ke perampok di atas motor, sambil melayangkan tembakan ke berbagai arah mereka melaju. Han maju menyerang dua orang lagi yang dengan cekatan menyusul teman mereka.
“Dor, dor, dor!” Suara tembakan terdengar lagi. Aku berlari dari tempat persembunyian, membaca keadaan.
Han berhasil mengenai kaki perampoknya, ia berlari mendekat membidik. Sayangnya satu orang lagi yang di atas motor sedang mengincar Han. Tangannya terulur memegang senjata. Aku harus cepat, selagi orang itu konsentrasi membidik suamiku, aku berlari secepat kilat mendekatinya, dan dengan sekuat tenaga kulayangkan tendangan ke arah kepalanya yang bertopeng.
“Dash!” Ia terhuyung ke kiri. Aku mengincar pistol di tangannya. Han sigap menembak penjahat yang satu lagi. Kena! Kini orang-orang mulai berani tegak berdiri dan berlari ke arah kami, sementara aku masih sekuat tenaga menahan tubuh lelaki yang hendak meraih pistolnya lagi. Gawat! Tenaganya terlalu kuat! Aku menjerit saat tanganku terpelintir.
Lelaki itu tiba-tiba terjerembap. Kaki Han tepat berada di atas punggungnya dan dengan ujung pistol menukik tepat ke arah kepala perampok itu. Fiuh, aku selamat. Orang-orang mulai ramai, tak lama kemudian suara sirine mobil polisi terdengar. Dua orang perampok yang sudah kabur harus dikejar.
Han menarikku berdiri.
“Aku sudah bilang, jangan ke mana-mana, kenapa masih nekat?” Ia meneriakiku dengan wajah memerah. Tetes-tetes keringat berjatuhan dari ujung rambut berponinya.
“Kamu tu kalo dibilangin, nurut! Jangan bandel! Ini tu bahaya ngerti nggak?” Han menarikku menjauh dari kerumunan orang-orang, lalu berjalan cepat mendekati motor kami.
Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa, Han. Ingin sekali mengatakan itu tapi bibirku kelu. Hanya mata ini berkaca-kaca mendengar bentakannya.
Kami sudah sampai di dekat motor. Ia berbalik menatapku, lekat. Kedua alisnya bertaut, wajahnya serius sekali.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?” Han meraih pucuk kepala dan menyentuhnya perlahan. Aku hanya diam dengan perasaan yang aneh.
“Jangan kayak gitu lagi, ya! Jantungku hampir copot ngeliat kamu tadi tau, nggak?” ujarnya sambil mengusap pipiku, dahi, membetulkan anak rambutku yang berantakan ke belakang telinga. Juga menghapus keringat yang membasahi wajah ini.
Han, apa ini? Hatiku mencelus, seperti ada suara ‘nyes’ di dalam dada. Aku tak berhenti menikmati wajahnya yang berjarak sangat dekat saat ini.
“Han?”
“Ya?”
“Boleh minta cium, nggak?” Onde Mande lancang sekali mulut ini!
Han menjentikkan jarinya ke arah jidatku sambil tersenyum. Maniiis ... banget.
“Udah pernah!” katanya.
“Hah? Kapan? Kok aku nggak ngerasa, sih?”
“Ayo kuantar pulang, aku mau pergi lagi!” katanya.
“Han, jawab!” Aku memukul punggungnya.
Ia malah menarik tanganku untuk melingkari pinggangnya.
“Han!”


_Bersambung....._

LELAKI ES

*LELAKI ES*

2

Kebisuan di antara kami berlanjut sampai ke rumah. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, tapi ... sangat tidak nyaman saling diam seperti ini.
Aku menyeduh teh dan mengantarkannya ke kamar di mana suamiku sedang berganti pakaian. Sial, kali ini waktuku kurang tepat untuk menyaksikan pemandangan indah seperti kemarin.
Han menerima cangkir dariku dan duduk di tepi ranjang. Hmm ... sepertinya memang harus aku yang memecah kesunyian terlebih dulu.
“Ehm, Han, kamu nggak lupa ‘kan besok lusa ulang tahunku?” Pertanyaan konyol. Aku menepuk kening sendiri.
“Iya,” jawabnya, dan ia ... tersenyum. Ah, syukurlah wajahnya tidak tegang seperti dalam mobil tadi. Aku lega.
Han masuk kamar mandi, sementara untuk menghilangkan bosan aku membuka aplikasi WA. Membuka percakapan dengan teman grup alumni kuliah dulu. Menceritakan tentang kejadian dari pagi tadi hingga saat Han yang tiba-tiba menjemputku ke sekolah.
Reaksi teman-temanku sungguh di luar dugaan. Mereka mengatakan itu pertanda baik. Jadi saat Han menawarkan akan mengantarku, jangan lagi tolak! Harus terima, bila perlu minta antar saja pakai motor.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Aduh, kamu itu, ya, Rin! Pakai otak jangan diirit irit kek beli sembako. Gunakan dengan maksimal!” balas Risa.
“Biar bisa nempel-nempel, gitu ... kalo di mobil kan nggak bisa? Helo trik dasar kek gini aja kamu nggak tau?” Kali ini Tina yang menjawab, kompak sekali dengan Risa.
Aku mengangguk-angguk sambil berharap hal itu bisa jadi nyata besok pagi.
“Jangan lupa, kamu harus pakai bra yang nggak ada busanya, ingat! Pakai baju yang tipis-tipis saja!” tambah Risa lagi.
Beberapa detik kemudian tiga gambar bra yang berbeda jenis dan warna menghiasi layar gawaiku. Apa-apaan mereka? Dasar.
Sohib-sohibku itu dengan semangat menjelaskan masing-masing kegunaannya. Tentu saja dengan kalimat-kalimat nakal seperti biasa. Kini, gambar-gambar itu semakin banyak dikirim oleh Risa. Astaga! Apa-apaan mereka?
Aku melempar gawai ke kasur. Tepat saat itu, Han duduk di sebelahku. Tampaknya ia kaget dengan lemparan benda di dekatnya itu. Salahku, tak menyadari kedatangannya.
Setelah melihatku, detik kemudian manik mata Han beralih pada gawai yang tergeletak di kasur dengan layar yang masih menyala. Di sana, gambar bra berwarna pink terpampang nyata tanpa cela lengkap dengan modelnya yang seksi. Ups! Han membulatkan mata memandangnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Han, aku meraih benda laknat itu dan berjalan keluar kamar, malu!
***
Pagi yang cerah. Saat sudah siap dengan seragam olah raga yang tipis dan bra seperti yang disarankan teman-teman kemarin, aku menunggu Han mengatakan kalimat keramatnya.
“Mau aku antar?”
Ah, akhirnya kalimat itu keluar juga. Tanpa basa basi lagi aku langsung menjawab, ya!
“Tapi, bisa nggak kita berangkat naik motor saja? Soalnya aku suka mual naik mobil?” Alasan macam apa ini? Aku menepuk kening sendiri.
“Boleh!” ucap Han. Wow, aku berlonjak kegirangan, misi melelehkan es di kutub segera dimulai.
Han mengeluarkan motor ninjanya, dan itu makin membuatku berbinar. Bukankah akan lebih mudah ‘menempel’ padanya dengan bentuk jok seperti itu? Hohoho ... ini berkah.
Aku naik ke atas motor setelah Han memberikan helm. Perlahan motor melaju membelah jalanan. Ragu, kulingkarkan tangan ke pinggang suamiku itu. Dadaku berdebar-debar, ini pertama kalinya kami berada pada jarak yang sangat dekat. Lalu kini, aku berusaha menghapus jarak itu. Tanpa kuduga, tangan Han yang hangat menarik jemariku untuk lebih erat lagi berpegangan padanya. Hhh ... rasanya di atas angin. Aku mengulum senyum.
Tapi ... apa ini? Aku baru sadar kalau Han mengenakan jaket yang terlalu tebal. Wah bagaimana rencanaku bisa berhasil? Dengan ukuran dada pas-pasan seperti ini, bagaimana mungkin bisa menembus jaketnya yang sedemikian tebal? Paling maksimal ia hanya bisa merasakan ada yang menyentuh punggungnya tanpa tahu teksturnya! Ya! Itu yang terpenting. Tujuanku adalah membuatnya penasaran dengan keindahan tubuhku ini dan berharap malam pertama secepatnya terlaksana.
Kalau begini rencanaku gagal. Agh ... menyebalkan! Kenapa kamu harus pakai jaket setebal ini sih, Han? Kamu itu nggak peka banget tahu nggak? Atau kamu malas bersentuhan denganku? Atau aku memang tidak menarik? Segala bayangan indah berbagi kehangatan di atas motor musnah sudah. Ingin menangis sepanjang jalan. Rasanya seperti gagal belanja baju online, saat barang tiba ternyata tidak sesuai ekspektasi! Beli ukuran L, yang datang seukuran XS, kekecilan, tapi uang sudah ditransfer, dan nggak bisa dituker. Nyeri euy!
Han menurunkanku di depan kantor guru, bukan di tempat parkir kendaraan. Aku turun dan mencium punggung tangannya.
“Kamu nggak pakai jaket? Kan dingin?” Sepertinya dia terkejut melihatku.
“Ah ... nggak apa-apa, aku udah biasa, kok!” Aku tertawa hambar, tapi meringis dalam hati, tadi itu dingin sekali, Han. Semua ini kulakukan untukmu.
Detik kemudian Han meninggalkanku. Lalu dengan bersungut-sungut kutulis pesan pada teman-teman di grup.
“Kalian tau ide gila itu membuatku hampir mati kedinginan, dan nggak ‘ngefek’ apa-apa ke Han!”
“Kok bisa?” balas Yeoni.
“Dia pakai jaket tebel banget!” jawabku.
Emotikon ‘ngakak’ memenuhi layar gawaiku.
“Bukan jaket anti peluru yang sering dia pakai ‘kan?” ketik Risa.
“Tapi bisa jadi sih, mungkin dia menganggap dada Ririn itu peluru yang berbahaya! Wkwkwk.”
“Kalau pelurunya segede itu, kebayang nggak senapannya semana? Wkwkwk!”
Mereka sibuk menertawakanku.
“Rin, kalau misi ini gagal, kamu harus cari tahu masa lalu suamimu, kamu harus pastikan kalau dia benar-benar lelaki tulen!” tulis Tina.
“Dia tulen!” jawabku kesal.
“Tapi dia belum pernah menyentuhmu, apa itu normal? Cobalah ajak dia ke rumahnya, pastikan kamu ulik semua masa lalu suami kamu!” cetus Yeoni.
Agh, aku pusing. Mereka bicara yang bukan-bukan. Aku berlari ke lapangan. Beberapa siswa yang terlambat datang menjadi sasaran empuk kekesalanku. Tak ada yang berani melawan Ririn di sekolah ini. Aku cukup disegani walau tubuh ini tak setinggi mereka. Tidak hanya mengajar pendidikan jasmani, aku juga menguasai bela diri. Tahun lalu sekolah sempat geger karena ulahku berkelahi dengan murid yang berakhir di pengadilan. Untungnya aku menang, sebab aku yakin benar.
Setelah memberi hukuman pada mereka aku kenakan baju yang lebih tebal dan pergi ke lapangan basket. Olah raga adalah cara lain melupakan kekesalan. Saat itu beberapa siswa ada di luar lapangan, sementara aku sedang tidak ada jadwal. Jadi tidak ada beban meninggalkan kelas.
Tiba-tiba Riko sudah ada di lapangan dan merebut bolaku. Sepertinya aku mendapatkan lawan seimbang. Kudengar riuh suara siswa-siswa meneriaki kami, memberi semangat. Benar, aku lupa dengan gagalnya misi pagi ini.
Tenang saja, Rin, masih banyak waktu untuk menaklukkan hatinya. Jangan berhenti berusaha.
Aku berhenti main, peluh membasahi sekujur tubuh juga rambut. Riko tampak menemui seorang siswa lalu kembali mendekatiku dengan gawai di tangan, lalu menunjukkan sesuatu padaku.
“Nggak penting banget, sih, Rik!” Aku mengalihkan pandangan dari layar gawainya yang sedang memutar video rekaman pertandingan basket kami.
“Bagiku ini keren, maksudku, kamu keren, Rin!” pujinya.
Ada yang hangat menjalar di pipi. Ah, sayang pujian itu bukan keluar dari mulut Han. Semanis apa pun kalimat jika bukan dari bibir Han, tidak akan berarti bagiku, saat ini. Tuh, kan ... aku jadi ingat dia lagi. Aku bergegas melangkah meninggalkan Riko menuju ruang ganti.
***
Pulang kantor aku dijemput Han dengan mobil. Wajahnya sama dengan saat pertama ia menjemputku. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku enggan bertanya.
Tiba di rumah aku mengempaskan diri di sofa ruang tengah, lelah rasanya. Tiba-tiba lelaki itu duduk di sebelahku.
“Siapa Riko?” Han bertanya.
“Teman, kamu tau dari mana ada temanku bernama Riko?”
Han mengeluarkan gawai dan menyentuh layarnya. Jari-jarinya sungguh panjang dan lentik. Tidak terbayang jika ia sedang menggunakannya memegang senjata menangkap penjahat. Hangatnya saat ia menarik tanganku tadi pagi masih terasa.
“Ini!” Han memperlihatkan video main basket tadi yang dikirim ke beranda facebookku.
“Ya, itu aku tadi pagi, ah buat apa sih Riko menandaiku?” Aku memaksakan tawa mencoba memecah kekakuan. Ada yang tak biasa saat aku memandang wajah Han. Rahangnya terlihat mengeras, seperti ada yang ia tahan untuk dikatakan.
“Mana handphone-mu?”
Aku refleks memberikannya.
“Apa sandinya?”
Aku memberitahunya. Han tampak membuka aplikasi facebookku. Anehnya, aku tidak marah. Aku merasa berdebar menanti sesuatu yang romantis dilakukannya. Seperti di drama-drama Korea? Cowok yang cemburu secara diam-diam. Aku mengulum senyum.
Han tampak mengutak-atik gawaiku. Aku mendekat agar bisa melihat apa yang ia lakukan. Sayang keberanianku ini jika di tempat tidur selalu lenyap. Han menjauhkan diri agar aku tak bisa menatap gawaiku sendiri.
Anganku melayang, pasti suamiku ini sedang memamerkan hubungan kami agar cowok-cowok di luar sana tak ada yang berani menambahkanku menjadi teman apalagi mengirim video seperti tadi. Jujur permainan basket tadi menunjukkan kalau aku dan Riko benar-benar akrab. Han pasti cemburu. Aku terkekeh dalam hati.
Pasti saat ini ia sedang mengganti foto profilku dengan foto kami berdua. Supaya aku tidak diganggu cowok lain. So sweet sekali. Akhirnya ....
“Ini!” Han menyerahkan gawainya padaku, lalu melangkah ke kamar dengan santainya.
Aku cepat-cepat menatap layar, penasaran foto mana yang ia gunakan sebagai profil facebookku?
“Han!” Aku berteriak, tapi tubuh tingginya sudah tak terlihat di balik dinding kamar.
Aku bersungut-sungut. “Dasar es batu!” Lihat! dia mengganti foto profilku dengan gambar balita kribo dengan pipi bulat yang menghitam seperti baru kena setrum di film-film kartun. Bukan dengan foto romantis pernikahan kami.
“Han!” Aku berteriak sebal, mengacak-acak rambut sendiri.
Lelaki itu keluar dari kamar dan menatapku.
“Kenapa?” tanyaku sambil menatapnya dan gawai secara bergantian.
Han berjalan cuek ke arah pintu keluar rumah kami.
“Itu hukuman!”
“Aku nggak salah apa-apa!” sahutku kesal.
“Kamu genit!”
“Nggak!” Aku tidak terima.
Hening, kami sama-sama berdiri dalam diam. Tapi kupikir-pikir, di dalam video itu memang yang tampak hanya aku dan Riko. Tidak ada siswa-siswa yang meneriaki kami. Apa aku terlihat segenit itu? Iya kah? Aku jadi tidak enak.
“Aku pulang malam!” Han mengalihkan pembicaraan dan tak menatapku. Mungkin ia ingin kami tak membahas masalah ini lagi. Ia bersiap pergi.
“Jangan lupa hadiah ulang tahunku besok!”
“Aku sudah siapkan kadonya, tapi kalau kamu menemukannya, jangan dibuka sekarang, ya!”
Mataku berbinar. “Kita rayakan di rumahmu saja, ya?” pintaku.
Han diam beberapa detik. Ia menyugar rambutnya yang lebat dan tidak cepak seperti kebanyakan rekan seprofesi.
“Oke!” Kemudian ia berlalu.
Baiklah, Han, aku akan lanjutkan misi keduaku. Pesan dari teman-teman akan kulaksanakan di rumahmu besok. Sejenak aku lupakan foto profil facebook yang terganti dan video yang sudah dihapus serta hilangnya nama Riko dari daftar pertemanan. Aku menuju kamar untuk beristirahat.
Setelah berganti pakaian dengan dres bunga-bunga, aku berniat merebahkan diri ke kasur saat tiba-tiba mataku menangkap sebuah kotak besar dengan pita.
Aku mendekati dan merabanya. Mungkinkah ini kado ulang tahun yang baru saja dikatakannya? Hei ... aku hanya minta puisi tapi kenapa ia memberikan bungkusan sebesar ini? Apa ya isinya? Han tidak hanya dingin tapi juga misterius.
Aku penasaran tapi sudah berjanji pada Han untuk tidak membukanya. Kalau tak kutepati bisa-bisa kena hukum lagi? Bagaimana kalau sampai tidak jadi ke rumahnya besok? Aku kan mau melaksanakan misi lagi.
Tapi, tidak dibuka rasanya penasaran sekali. Tidak hanya besar, kado ini juga sangat ... berat!


_Bersambung..._