Selasa, 31 Desember 2019

Kebakaran Itu Rupanyanya Cobaan

In syaa Allah bagi saya ini termasuk bagian kecil dalam upaya kampanye Buy Muslim First. 

Kisah Sukses TIP TOP swalayan
 

Kebakaran itu Ternyata Cobaan
Majalah Tarbawi

Edisi 16 Th 2
31 Januari 2001 M / Syawal 1421 H

Saya lahir pada tahun 1933, di Padang, Sumatera Barat. Alhamdulillah sejak kecil orang tua mendidik saya dengan ajaran Islam yang ketat. Ayah saya berlatar pedagang. Sejak saya kecil, ia juga mendidik saya untuk berdagang. Sekaligus mengajarkan akhlaq berdagang.

Suatu saat tanpa disadari, ayah saya kurang mengembalikan uang pembeli. Tetapi pembeli itu diam saja dan berlalu. Lekas dipanggilnya orang itu. Sewaktu saya bertanya mengapa dikembalikan sisa uangnya sedangkan orang itu tidak tahu. Ayah menjawab, Allah Maha Tahu. Sikap demikian akhirnya tertanam dalam hati nurani saya.

Sewaktu baru berumur 11 tahun, saya sudah diberinya sejumlah uang. “Kamu mau dagang apa, terserah,” ujarnya lembut. Setiap pulang “berdagang”, saya melaporkan pendapatan saya. “Berapa kamu dapat ? Bagus,” pujinya. Waktu itu saya berinisiatif menjual kelapa. Dengan menggunakan gerobak, saya membeli kelapa di rumah penduduk, dan menjualnya ke pasar dengan jarak tempuh sampai 10 km.

Tapi ayah tetap mengutamakan pendidikan formal. “Jangan tinggalkan sekolah.”itu selalu ia tekankan. Lulus SMA saya meneruskan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah lulus, saya bekerja sebagai Direktur BPD. Saya sudah bertekad, suatu saat harus mandiri. Setelah tujuh tahun bekerja di BPD, saya menolak diperpanjang masa jabatan. Saya merasa inilah titik awal permulaan usaha saya. Saya mesti berdiri di atas kaki sendiri.

Maka sejak 1967, saya mulai menekuni berbagai bidang usaha. Hingga sepuluh tahun kemudian, sewaktu mencoba bisnis properti kecil-kecilan, saya sadar, usaha itu sudah tidak bisa lagi saya kembangkan.

Lalu pada tahun 1978, saya memutuskan keliling Eropa, melakukan “studi banding”, apa sih yang sebaiknya saya kembangkan. Akhirnya saya menemukan, yang pokok diperlukan manusia itu sandang dan pangan. Ternyata siapa yang bergerak di bidang itu, asalkan mempraktekkan teori-teori yang benar, dapat berkembang.

Pada tahun 1979, mulailah saya membuka TIP TOP di Rawamangun. Waktu itu hanya toko kecil, semacam mini market. Saya memulai dari bawah, dari nol. Luas lantainya hanya 400 M2. Saya juga pergi ke pasar-pasar tradisional membeli bawang, cabai langsung sama mbok-mbok penjualnya. Ini berlangsung sekitar dua tahun. Bagi saya ini banyak hikmahnya, saya jadi tahu perputaran arus barang mulai dari bawah.

Sejak awal saya sudah mematok mini market itu harus berdasarkan prinsip-prinsip Islami. Bukan hanya tidak menjual daging babi dan minuman keras, tetapi saya juga selektif memilih barang. Misalnya daging sapi atau ayam, kalau harganya terlalu murah, atau tidak jelas memotongnya Islami atau tidak, saya tolak. Bagi saya justru nmencurigakan kalau harganya terlalu murah, dari mana dapat daging itu? Jadi barang-barang yang tidak jelas asal usulnya tak mau saya terima. Saya juga perlu melihat langsung tempat pemotongan hewannya.Saya berusaha memprotect, agar hanya barang yang halal dan thoyyib saja yang dijual.

Saya juga mencoba mengikuti bagaimana nabi berdagang, tentunya sepanjang yang saya ketahui. Nabi Muhammad berdagang sesuai dengan hati nuraninya, tidak mau menipu, mencelakakan atau menganiaya orang. Ini saya coba terapkan. Bagi saya kalau sudah cukup untung 2 sampai 3 % jangan mengambil 5 atau 10 %. Setahu saya prinsip dalam Islam itu, carilah pendapatan secukupnya untuk dirimu. Jadi walaupun barangnya halal, tapi kalau harganya mahal, bagi saya tidak baik, dan tidak Islami juga jadinya.

Ternyata dasar Islami ini mendapat respon positif dari masyarakat. Tip Top mendapat sambutan di luar dugaan saya. Perkembangannya demikian cepat, bagaikan air bah saja. Lahan seluas 400 M2 itu tidak mencukupi. Tiap tahun saya harus memperluas , dengan membongkar bagian rumah saya di samping mini market. Tahun 1985, Tip Top sudah berubah jadi Pasar Swalayan, dengan luas 3000 M2 dan kenaikan penjualan 20 hingga 30 kali lipat.

Berdasarkan pemantauan kami, pelanggannya tidak hanya yang tinggal di Rawamangun saja, tapi meluas hampir di seluruh Jakarta Timur. Saya merasa ini tak lain karena ridlo Allah. Dengan kesadaran ini, saya semakin takut untuk keluar dari jalur Islami. Tawaran dari supplier barang yang tidak Islami, misalnya minuman keras, bukannya tidak ada. Bahkan fasilitasnya mudah dan keuntungannya besar. Saya tetap menolak semuanya.

Hingga pada Juni 1991, Allah menguji saya. Kebakaran besar tiba-tiba menimpa Tip Top.Semuanya habis terbakar. Inventaris, stok-stok barang, gedung, ludes terbakar semuanya. Tak ada lagi yang tersisa. Hingga menjelang shubuh, api yang mengamuk sejak jam satu malam masih berkobar. Pemadam kebakaran boleh dibilang minim bantuannya, karena sedang terjadi kebakaran juga di Jatinegara.

Sewaktu melihat api yang menjilat-jilat itu, saya sempat berfikir, apakah ini hukuman atau cobaan dari Allah. Bagi saya, kalaupun ini hukuman, saya tetap bersyukur. Berarti Allah masih berkenan memperingatkan saya dan masih memberi kesempatan saya memperbaiki diri. Sewaktu api masih mengganas, saya pulang untuk sholat shubuh. Setelah sholat, rasanya muncul cahaya, bahwa ternyata  itu bukan hukuman. Tapi cobaan dari Allah. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pada waktu itu saya dicoba.

Pagi hari para karyawan berdatangan. Tak pelak lagi mereka terkejut, sedih, bahkan menangis. Saya hadapi mereka, saya sampaikan apa yang saya yakini. Bahwa kita sedang dicoba oleh Allah, apakah mampu atau tidak kita melewatinya. Kalau mampu, kita akan “naik kelas”. Kalau tidak, malah akan ditutup segala pintu rizki oleh Allah. Sayapun sudah bertekad, harus bangkit kembali.

Setelah musibah itu, tanpa saya duga sama sekali, pihak Pemda meminta Tip Top harus berdiri kembali. Jam sepuluh pagi sesudah kebakaran itu, mereka bilang,”Kalau perlu buka saja disini(areal Pemda-red). Kalau pun mau membangun kembali di tempat lama, apa kesulitannya, kami yang akan urus.” Saya sangat terharu. Rasaya mereka kok lebih berkepentingan daripada kami.

Wakil Gubernur saat itu menanyakan, berapa karyawan yang teraniaya akibat kebakaran itu. Saat itu ada sekitar 200 karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Tip Top. Ternyata ia menyampaikan, mereka akan disantuni Pemerintah DKI. “Kalau soal ijin dan lainnya, saudara tidak usah khawatirkan. Pemerintah DKI akan berada di belakang saudara.” ujarnya pada saya. Itu suatu support luar biasa yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya. Tambah kuat keyakinan saya bahwa ini cobaan dari Allah. Masalah-masalah setelah kebakaran rasanya dimudahkan saja oleh-Nya.

Hal lain yang juga di luar dugaan saya, adalah mudahnya saya memperoleh pinjaman dalam jumlah sangat besar, buat membangun kembali Tip Top. Pertolongan-pertolongan yang tidak disangka sama sekali, ternyata saya dapatkan dengan mudah. Saya pikir itulah kehendak Allah. Sebagai manusia, saya dengan sendirinya sangat terharu dengan karunia Allah ini.

Sekitar dua minggu kemudian, Tip Top dibangun kembali. Di areal lama. Bulan September, separoh dari supermarket sudah dapat dibuka kembali. Saat itu hutang saya kepada supplier mencapai dua milyar lebih. Tapi, Alhamdulillaah, mereka tetap percaya kepada kami. Walaupun hutang itu belum bisa dibayar, mereka tetap mensupli kami dengan barang-barang baru.

Pada Februari 1992, keadaan kembali seperti semula,. Setelah enam bulan sebelumnya kami bekerja siang dan malam. Dengan sendirinya kami mengalami berbagai pembaharuan. Bergerak dengan semangat, kemampuan, situasi serta keadaan yang baru. Ternyata para pelanggan juga tidak meninggalkan kami. Akhirnya, masih pada tahun 1992 itu, semua hutang saya pada supplier sudah bisa terbayar. Suatu hal yamg tak saya sangka. Saat itu kembali saya disadarkan, kalau Allah berkenan memberi rizki, dengan mudah saja Ia berikan.

Pada tahun 1992, seseorang tiba-tiba menawarkan sebidang tanah seluas dua hektar di Bogor. Awalnya, saya sempat pikir-pikir, apa gunanya. Tapi kembali saya merenung, barangkali Allah mau menguji saya, mampukah saya mengambil manfaat dari tawaran tanah itu. Akhirnya tanah itu saya beli. Pada tahun 1993 saya dirikan Panti Yatim Piatu.

Pada tahun itu pula saya dapat membuka cabang. Padahal, terus terang, saya juga tidak tahu dari mana uangnya. Saya juga heran, kok bisa. Padahal baru dua tahun saya terkena musibah. Agaknya itu yang Allah janjikan, kalau engkau dekat dengan-Ku, Aku lebih dekat. Ternyata cabang Tip Top itu pesat perkembangannya. Pada tahun 1999 kami membuka cabang di kawasan Tangerang. Insya Allah pada tahun 2001 kami akan membuka satu atau dua cabang lagi. Di setiap cabang itu, kami tetap menegakkan prinsip awal, yaitu supermarket berjiwa Islami.

Terhadap suppiler dan pembeli, sikap jujur tetap saya utamakan. Itu merupakan modal pokok usaha. Supplier mensuply barang puluhan milyar. Bagaimana mungkin mereka percaya, kalau saya tidak jujur. Pernah pula datang seorang pembeli yang mengeluhkan harga barang kami. Menurutnya, ternyata di tempat lain, ada barang serupa dengan harga lebih murah. Boleh jadi kami tertipu, “tertidur” atau pedagang lain berusaha men-cut prinsip kami. Setelah kami cek dan benar harga di sana lebih murah, kami kembalikan selisih harganya kepada pembeli itu.

Kini, kami mulai mempunyai anak-anak angkat, mereka ingin bergerak di bidang usaha ini tapi tidak tahu caranya. Mereka kami bimbing, tanpa memperhatikan unsur komersialnya. Kalau sudah berkembang, kami lepas. Sekarang sudah ada beberapa yang sudah bisa dilepas. Bahkan sudah membuka cabang-cabang mini marketnya.

Kami berusaha tetap eksis di Indoensia ini. Tentunya nanti akan lebih banyak lagi ”serbuan” pesaing yang masuk, setelah AFTA 2003. Tapi, insya Allah kami bisa menghadapi itu. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, Allah akan melindungi usaha-usaha yang diridloi-Nya.

Ke depannya, cita-cita saya, saya sangat ingin membuka supermarket di dekat Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Sekali lagi, saya sangat bersyukur, orang tua menganut Islam yang baik dan mengupayakan saya demikian juga. Yang saya sayangkan mereka keburu berpulang, dan belum sempat menikmati hasil kerja keras dan rizki Allah pada saya. Saya belum sempat menyenangkan mereka. Tapi Allah sudah memutuskan. Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahkan mereka mendapat tempat layak di sisi-Nya.

Kini, saya mempunyai generasi penerus, putra-putri saya. Insya Allah usaha ini akan jatuh ke tangan yang benar. Jangan sampai goyah membawa prinsip Islam dalam perjalanan selanjutnya. Saya optimis, Insya Allah, usaha-usaha apapun, termasuk swalayan yang berada dalam koridor Islam, akan dapat berkembang terus.

Seperti dikisahkan Bapak Rusman Maamoer,

pendiri Swalayan Tip Top, kepada Tarbawi.

Read more https://pengusahamuslim.com/931-kisah-sukses-tip-top-swalayan.html

Selasa, 24 Desember 2019

PAPAN BUNGA

*Kajian tentang Papan Bunga.*

Apa penyebab papan bunga tidak di bolehkan ?

Mari kita analisis :

1. Itu adalah kebiasaan dan budaya org2 kafir yahudi dan nasrani dlm kegiatan keagamaan mrk spt ulang tahun, kematian dan pesta2 lainya (Tasyabbuh namanya).

2. Itu adlh perbuatan mubazir dan sia2 belaka.
Harga antara 200rb - 500rb perpapan, manfaatnya tdk ada kecuali hanya kesombongan/bangga2an.

3. Bagi keluarga yg sdg berduka tdk ada sedikitpun untung dan manfaat bg mrk.

4.  Sebagian besar isi papan itu tdk mengandung doa sedikitpun.

5. Bahkan terpajang pula gambar2 manusia dan binatang.

6. Seandainya satu papan itu hrgnya 300rb x 200 papan = 60jt maka uang sbyk itu sangat berarti bagi keluarga yg sdg berduka.

7. Papan itu tdk lebih dari iklan, kampanye dan kesombongan bg yg mengirimnya, sbb tulisan nama mereka lebih besar dari nama org yg berduka.

8. Syariat Islam memerintahkan untuk mendatangi rumah duka dan ikut dlm penyelenggaraannya, bukan kirim bunga.

9. Papan2 bunga tersebut mengganggu pengguna jalan, trotoar, rumah tetangga dll.

10.Bagaimana perasaan tetangga miskin yg tdk punya kolega yg byk, yg hebat2, sehingga tdk ada yg mengirim papan bunga tsb.

11. Papan bunga sesungguhnya tdk luput dari kesyirikan dan kemunafikan.

12.Silahkan diperhatikan apkh ada tidak kata2 ma'af bg si mayat di situ? *tidak ada* 

Dll

Wallahu A'lam Bishshawab

Silaturrahmi

*Repost*

*"Indahnya cinta ❤ dan silahturahmi"*

Seusai Sholat Shubuh aku dikejutkan oleh Bunda 
“Ari, Nenek kamu masuk Rumah Sakit. Bunda harus datang melihatnya“ 
Kulihat wajah bunda nampak sedih. 

Tentu aku harus mendampingi bunda, karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta tapi Sumatera. 

Sementara aku hampir tidak mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar negeri sedang ada di Jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi pabrikku. 

kulihat Bunda sedang sibuk mengemas pakaiannya di kamar.

“Bunda, apa enggak bisa berangkatnya lusa aja” 
kataku dengan lembut.

“Bunda enggak mau ganggu kamu, bunda bisa pergi sendiri kok, antar saja Bunda ke Bandara ya."
kata bunda sambil memasukan pakaiannya kedalam koper.

“Baru minggu lalu bunda ke Dokter dan sekarang masih harus istirahat.“ 
Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. 
“Lusa aja ya, aku temanin.“

“Tidak !!! “ 
mata Bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela napas panjang.
Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata Bunda. Istriku juga punya sifat sama denganku untuk mengikuti kehendak Bunda.“ 

"Baiklah, kita pergi sama-sama." Seperti biasanya pula Bunda tersenyum cerah, dia memelukku.

Didalam pesawat aku menuju kota kelahiran ayahku, lamunanku terbang kemasa kanak kanaku. ....................

*Dalam usia 5 tahun, aku sudah yatim. Karena ayah meninggal akibat sakit.*

Menurut cerita Bunda, ketika Ayah meninggal status ayah masih mahasiswa di Yogya. Bunda bukanlah dari keluarga kaya. 
Bunda juga seorang Yatim, beda dengan Ayah yang terlahir dari keluarga Pajabat tinggi di Sumatera. 

Sehingga walau Ayah berstatus mahasiswa namun kiriman uang dari orang tuanya masih cukup untuk menanggung hidupnya berkeluarga. 
Ayah sengaja merahasiakan perkawinan itu kepada keluarga besarnya. Namun dua tahun setelah ayah meninggal, bunda datang ke keluarga ayah sambil membawaku. 
Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun. 

Aku tidak begitu ingat persis bagaimana suasana ketika Bunda memperkenalkan dirinya sebagai menantu dan aku sebagai cucu kepada kakek dan nenekku. 

*Yang aku tahu setiap tahun bunda selalu membawaku kerumah kakek dan nenek.*

Setiap tahun, setiap lebaran, Bunda mengajakku pergi kerumah kakek dan nenek. Dengan berlelah lelah naik bus melewati pulau Jawa dan Sumatera untuk sampai. 

*Tak pernah aku antusias datang ke rumah kekek dan nenek. Sebagai anak kecil aku tahu bahwa kakek nenek tidak pernah hangat dengan kehadiranku dan Bunda.* 

Beda sekali dengan perlakuannya kepada saudara sepupuku yang lain, seperti Adi, Rini, Bobi, Anto, Dedi. Setiap lebaran, kulihat para sepupuku datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya dengan pakaian bagus. 

*Beda sekali denganku. Bila semua Istri Om sibuk berdandan di kamar atau bermalasan di taman belakang rumah kakek yang luas itu, Bunda malah sibuk di dapur memasak, seperti pembantu.* 

Ayahku adalah anak tertua diantara empat bersaudara. Semua saudara ayah laki laki. Tidak ada perempuan. 

Istri Om semua memang cantik-cantik. Menurut yang kutahu dari nenek, yang selalu diulang-ulang dihadapan Bunda, bahwa semua Istri Om dari kalangan keluarga terhormat. 
Seakan merendahkan keberadaan Bunda. Tapi kulihat Bunda tak pernah tersinggung.

*Selama membesarkan ku, Bunda tak pernah mendapat bantuan satu senpun dari keluarga Ayah. Juga Bunda tidak pernah memohon bantuan dari mereka.* 

Bunda bekerja keras di perusahaan Swasta sebagai tenaga administrasi. Bundapun tak pernah terpikir untuk menikah kembali. Ketika aku sudah remaja, aku sudah bisa beralasan bila Bunda mengajakku lebaran di rumah kakek. 

“aku males ke rumah kakek dan nenek. Mereka enggak sayang sama aku. Kenapa kita harus ke rumah mereka ?“ 

Demikian alasanku. Tapi Bunda dengan segala sifatnya yang keras memaksaku untuk ikut. akupun tak berdaya.

Ketika aku tamat SMU, aku tidak kuliah. Aku memilih bekerja di bengkel. 

“Saya tak ada uang untuk mengirim Ari ke universtas, Yah". Demikian kata ibu kepada kakek ketika menanyakan mengapa aku tidak kuliah. 

Kakek dan nenek nampak tersenyum sinis ketika mengetahui keadaanku. 

Tahun-tahun berikutnya ketika lebaran. Kakek dengan kebanggaannya bercerita tetang sepupuku yang berangkat ke luar negeri untuk kuliah. Ada juga yang masuk perguruan tinggi swasta bergengsi di Jakarta. 
Aku maklum karena Om ku semua mempunyai posisi sebagai Pejabat dan ada juga yang jadi pengusaha. 

*Aku dan Bunda hanya diam mendengar cerita itu. Tapi, tak pernah mengurangi niat Bunda untuk datang ke rumah kakek dan nenek.* 
*Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku.*

Yang pasti bi idznillaah, izin Allaah SWT ditambah kerja kerasku, aku bisa menanggung Bunda dan Bunda tak perlu lagi berkerja keras.

Berjalannya waktu, yang tadinya aku sebagai pekerja bengkel, akupun sudah bisa mandiri dengan membuka usaha bengkel sendiri. 

Lambat laun, aku mendapat mitra untuk membuat komponen bodi kendaraan sebagai pemasok pabrikan otomotif. Usaha ini ku geluti dengan kerja keras siang malam dan akhirnya berkembang. Ini semua tidak bisa dilepaskan peran Bunda yang tak henti mendoa' kan ku. 

Akupun dapat hidup mapan. Namun, kewajiban setiap lebaran datang berkunjung ke rumah kakek nenek tetap saja dilakukan oleh Bunda dan aku harus ikut. 

Tapi belakangan keluarga yang berkumpul di rumah kakek dan nenek tidak lagi utuh. Yang lain hanya menelphone mengucapkan selamat lebaran kepada kakek dan nenek. Sepupuku pun tak semua datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran via SMS, telpon atau WA. Tapi Hb dan nenek tetap bangga dengan mereka. 

*Aku tak pernah cerita tentang keadaanku karena kakek dan nenek tak pernah bertanya tentangku. Walaupun mereka tahu aku dan Bunda tidak lagi datang dengan bus tapi menggunakan pesawat terbang.*
.........

Tak terasa roda pesawat sudah menyentuh landasan. Kulihat Bunda tersentak dari tidur lelapnya. Dia melirik kearahku dan entah kenapa dia menciumku keningku. 
”Ada apa Bunda ?“ tanyaku dengan tesenyum

*“Bunda ingat akan ayahmu."* 
Bunda nampak berlinang air mata. Aku hanya diam “Ayahmu pria yang sangat baik. Sangat baik". 
*Dia pria yang Sholeh.* Ayahmu berencana bila dia selesai kuliah dan dapat pekerjaan maka dia akan membawa Bunda dan kamu ke keluarga besarnya. 

Bunda tahu kok, Ayahmu dalam posisi lemah ketika melamar Bunda. Di samping itu dia sadar karena pilihannya kepada bunda membuat dia berbeda dengan Ayahnya. 

"Ayahmu mencintai bunda karena dia lebih mencintai Allaah dari apapun” Sambung Bunda.

“Maksud Bunda apa ?"

*“Ayahmu memilih Bunda karena Agama." Dia tidak melihat Bunda karena kecantikan, karena keturunan orang kaya, karena apa-apa.* *Dihadapan Ayahmu, Bunda adalah muslimah yang baik, yang miskin.* *Dan itu pasti akan ditentang habis oleh keluarganya.”* 

Air mata Bunda berlinang dan akhirnya air mata itu jatuh membasahi pipinya.

“kamu adalah putra ayahmu." Anak yang berbakti, Sholeh dan pekerja keras. 
"Benarlah kalau niat baik karena Allaah maka yang akan datang juga kebaikan.“

Aku terdiam. Ada yang mengganjal dalam pikiranku. 
Ini momen yang tepat untuk bertanya ...

*“Kenapa Bunda selalu menaruh hormat kepada kakek dan nenek.* 
*Padahal mereka sangat acuh dan tidak peduli dengan kita."*

Bunda menatapku dengan tersenyum 

*“Ketika Ayahmu pulang ke Sumatera dalam keadaan sakit, dia berpesan kepada Bunda , bila dia meninggal agar Bunda menjalin silahturahim dengan keluarganya dan mendidik mu untuk dekat kepada kedua orang tuanya.”* 

Bunda terdiam sebentar sambil mengusap airmatanya. 
"Kamu tahu, setelah Ayahmu meninggal, butuh dua tahun Bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu. 

*Walau karena itu tidak ada rasa hormat kepada Bunda, dan Bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi Bunda ingat kata kata Ayahmu* *“Cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia, ya kan, anakku.”*

“Ya, Bunda" Terlontar begitu saja dari mulutku.

Entah kenapa kedatangan ku bersama Bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh kakek. 

*Dia peluk aku ketika sampai di kamar nenek dirawat.* 
*Yang datang menjenguk hanya "aku dan Ibu". Sementara Om dan sepupuku tidak ada yang datang. Kulihat nenek dalam keadaan tertidur.* 

Dari kakek kutahu bahwa nenek terkena stroke tapi keadaanya cepat tertolong. 
Mungkin setelah itu nenek akan lumpuh. 
Kakek mengajakku keluar dari ruangan. 
Kami bicara di taman Rumah sakit.

*“Dua tahun lalu, Om mu yang pejabat di Jakarta, terkena kasus Korupsi. Dia dalam pemeriksaan oleh aparat yang berwajib."* 

*Sebelumnya, Om mu yang di Surabaya, perusahaannya disita oleh Bank karena bankrut.* 

*Om kamu yang di Bandung bercerai dengan istrinya, karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK sebagai PNS.* 

Semua anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang liar. 
Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam pergaulan bebas. 

*“aku terkejut, karena baru kali ini aku tahu."* Mungkin karena hubunganku dengan keluarga ayahku tidak begitu dekat maka tak banyak kutahu soal mereka.

*“Kakek tahu bahwa nenekmu punya penyakit darah tinggi dan jantung."*

Makanya kakek berusaha menyimpan rapat rahasia tentang Om kamu yang tersangkut kasus karupsi. 

*"Tapi kemarin, ada yang memberi tahu bahwa Om kamu sudah di vonis penjara enam tahun atas tindakan korupsinya. Seketika itu pula nenekmu jatuh pingsan ...”*

Aku hanya diam untuk menjadi pendengar yang baik. 

“Ari, kami tahu bahwa selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibu mu kurang baik." 

Bahkan kami biarkan ibu mu menderita membesarkan kamu, membesarkan anak dari putra sulung kami, cucu kami.

*Kami menyesal karena sikap kami selama ini. Belakangan ini, nenekmu selalu menyebut nama kamu .... setiap dia menyebut namamu, seketika itu juga dia menangis.* 

Kini dimasa tua kami, kami resah karena tak tahu siapa yang akan mengurus kami. 

*"Nenekmu mungkin setelah ini akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah ...”*

Ku genggam tangan kakek. 

*“Aku yang akan merawat kakek dan nenek."* 
*Izinkan aku untuk membawa kakek dan nenek ke Jakarta, tinggal bersamaku.* 
*"Beri kesempatan aku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, ya kek.“*

Seketika itu juga kakek memelukku erat. 

Terasa pundakku  basah, "aku tahu kakek menangis" Harta yang ada jual saja lah kek. Untuk bantu Om dan Adik-adiknya. 

"Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk Panti asuhan agar kakek punya bekal ke akhirat, setuju kan kek." kataku. 

Kakek semakin erat pelukannya. "Maha suci Allaah SWT, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami."

Bertahun-tahun aku di didik oleh Bunda untuk memahami makna cinta.

_*"Bahwa Cinta adalah tindakan memberi karena Allah", bukan mengharap balasan dari manusia.*_

akupun harus memahami hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, orangtua ayahku.
......

Bunda nampak bahagia sekali ketika melihatku mendorong kursi roda Nenek menuju tangga pesawat dengan di samping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. kami semua ke Jakarta.

.........

*Ya Allah, semoga kami bisa menjaga lisan,  tindakan, agar tidak ada yg tersakiti, saling menghargai,  menghormati, memberi cinta dlm suka dan duka,  saling membantu dlm kebaikan ... meninggal dalam keadaan sebagai insan yang Engkau cintai, Husnul Khootimah dan mendapat Syafaa'at yang agung dari Baginda Yang Mulia Habiibunaa Rasuulillaah Muhammad SAW.*

Aamiin .... yra 😭😭😭😭😭

Mohon dimaafkan jika ada salah kata dan tidak berkenan 🙏🏻😘

*Jazakumullahu khairon*

Jika baik bisa diteruskan kpd saudara yang lain. 

Jika tidak, ya gpp

Kamis, 19 Desember 2019

Dahsyat Nya ?.....

*Assalamualaikum, Dahsyat nya bacaan *"BACAAN ATTAHIYYAT ADALAH DIALOG ANTARA RASULULLAH . DENGAN ALLAH Subhana Wa Ta'ala"*    di Sidratul Muntaha ketika terjadi peristiwa Isra Mi'raj.

*1. Seandainya kita mengetahui bahwa
      sebagian dari bacaan shalat itu adalah
      dialog antara Rasulullah  dengan Allah
      Azza wajalla, tentu kita tidak akan
      terburu-buru melakukannya...

* Allahu Akbar, ternyata bacaan shalat itu dapat
   membuat kita seperti berada di syurga...

* Mari kita camkan dan renungkan kisah
   berikut ini, tentu akan berlinang air mata kita,
   masya Allah...*
                                                                 
*2. Singkat cerita, pada malam itu Jibril As. mengantarkan Rasulullah Saw naik ke Sidratul Muntaha. Namun karena Jibril As tidak diperkenankan untuk mencapai Sidratul Muntaha, maka Jibril As pun mengatakan kepada Rasulullah  untuk melanjutkan perjalanannya sendiri tanpa dirinya...

*3. Rasulullah  melanjutkan perjalanan perlahan sambil terkagum-kagum melihat indahnya istana Allah  hingga tiba di Arsy...

* Setelah sekian lama menjadi seorang Rasul, inilah pertama kalinya Rasulullah
berhadapan dan berbincang secara langsung dengan Allah Azza wa Jalla...

* Bayangkanlah betapa indah dan luar biasa dahsyatnya moment ini, Masya Allah..*

*4. Percakapan antara Nabi Muhammad Rasulullah dengan Allah Subhanahu Wata'ala 

*(1). Rasulullah -pun mendekat dan memberi salam penghormatan kepada Allah  :
* Attahiyyatul mubarokaatush shalawatuth
   thayyibaatulillah*= Semua ucapan
   penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah".

*(2). Kemudian Allah  menjawab sapaannya 
* Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiyyu
   warahmatullahi wa barakaatuh
* Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah
   untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunia-Nya".

*(3). Mendapatkan jawaban seperti ini,
 Rasulullah Saw tidak merasa jumawa atau
berbesar diri, justru beliau tidak lupa dengan umatnya, ini yang membuat kita
sangat terharu.

* Beliau menjawab dengan ucapan :*
* Assalaamu 'alaina wa 'alaa 'ibadillahish 
   shalihiin"*= *Semoga perlindungan dan
   pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih"

* Bacalah percakapan mulia itu sekali lagi, itu adalah percakapan Sang Khaliq dan
hamba-NYA, Sang Pencipta dan ciptaan-NYA
   dan beliau saling menghormati satu sama lain, menghargai satu sama lain, dan lihat 
   Betapa Rasulullah  mencintai kita
   umatnya, bahkan beliau tidak lupa dengan kita ketika beliau di hadapan Allah ..."

* (4). Melihat peristiwa ini, para Malaikat yang
menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha tergetar dan terkagum-kagum betapa Rahman dan Rahimnya Allah , betapa mulianya Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam  ...

*Kemudian para Malaikat-pun mengucap dengan penuh keyakinan :

*Asyhadu Allaa ilaaha illallah, wa asy hadu
  anna Muhammadan abduhu wa Rasuluhu* = *Kami
  bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan Rasul Allah".*

*5. Jadilah rangkaian percakapan dalam
       peristiwa ini menjadi suatu bacaan dalam shalat yaitu pada posisi Tahiyat Awal dan Akhir, yang kita ikuti dengan shalawat kepada Nabi sebagai sanjungan seorang individu yang menyayangi  umatnya.
* Mungkin sebelumnya kita tidak terpikirkan  arti dan makna kalimat dalam bacaan ini.*
* Semoga dengan penjelasan singkat ini kita dapat lebih meresapi makna shalat kita.

 Sehingga kita dapat merasakan getaran yang
 dirasakan oleh para Malaikat disaat peristiwa itu...
* Semoga bermanfaat untuk menambah
   kekhusyu'an shalat kita. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.*

6. Pesan : 
*Jangan pernah tinggalkan shalat karena didalam kubur banyak jutaan manusia yang
   minta dihidupkan kembali hanya untuk
   beribadah kepada Allah 
 *Sesibuk apapun kita jangan pernah
   tinggalkan shalat*
Sumber : Kitab Qissotul Mi'raj.

7.  Sekarang anda memiliki dua pilihan :
*(1). Membiarkan sedikit pengetahuan ini Hanya dibaca disini.
*(2). Membagikan pengetahuan ini In syaa Allah bermanfaat dan akan menjadi
pahala bagimu. Aamiin..*

Semoga bermanfaat.
*Wassalam*

Senin, 16 Desember 2019

KEKASIH ALLAH

Maaf  numpang share...
Pengingat buat diri sendiri...semoga bermanfaat buat yg lain...🙏🤲



*PARA MANUSIA LANGIT* 


Kenalan saya, *seorang Perencana Keuangan di Jakarta* punya *banyak Klien* dari *kalangan Artis*. Dia cerita, waktu itu *pernah dicurhati seorang Artis* yang tiap hari nongol di Televisi, terkenal dimana-mana, *tetapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya*.
Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya..

*Saya pernah kenal seorang Presenter TV Nasional..*
Klo sedang tampil rapi, pakai jas rapi sekali. Hanya sekali ketemu di Seminar, dia minta nomer HP.
*Sebulan kemudian dia SMS, "Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa" ?* Minggu depan saya kembalikan.."

Tahun 2009 malah ada *Vokalis Band terkenal,* saya kenal sejak 2003. Ketika dulu masih kerja di EO, sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager.
*Lagunya ngehits di semua Radio.*
Satu sore ngajak ketemu, *Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu*.
Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu.

*Kisah Ustad Luqmanul Hakim gak kalah unik..* Waktu masih kuliah S2 di Malaysia, dia diundang makan di sebuah Restoran mewah oleh salah satu kawannya. *Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran Motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya*.
Usai makan, kawannya justru curhat dan minta nasehat, *sambil menunjuk Mobil mewah di halaman depan yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar..*

*Betul kan, rezeki dari Allah itu pasti cukup untuk hidup*, tapi tak akan cukup *untuk gaya hidup..*

Ada lagi *kisah seorang Ibu tua dengan kain jarik* datang ke sebuah Masjid usai Jumatan..
Panitia dan Takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil Infaq Jamaah hari itu. 

Ketika Ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, *salah seorang dari mereka berdiri,* mendekati Ibu itu sambil berkata, *"Maaf Ibu, disini tidak memberikan sumbangan.."*

Ibu itu membuka lipatan kain jariknya, *mengeluarkan uang berwarna merah, biru,* merah, biru, merah, biru yang berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata:
*Maaf, Nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan Masjid ini.* Ini uangnya mohon diterima.."

Jleebb...  *Seketika para Takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah Ibu itu..*
Salah tingkah dan menahan malu...

*Tulisan dari Ustad Salim A. Fillah* ini juga menarik, menahan nafas membacanya, tertulis dalam bukunya *"Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta"*

Suatu malam, *Ustadz Muhammad Nazhif Masykur* berkunjung ke rumah.
Setelah membicarakan beberapa hal, Beliau bercerita tentang *Tukang Becak di sebuah kota di Jawa Timur.*
Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya.
Yang saya catat adalah, "Pernyataan misi hidup Tukang Becak itu, yakni: *"Jangan pernah menyakiti* dan *Hati-hati memberi makan istri".*
“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.

"Tukang Becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala ?".
Saya juga takjub dan berulang kali berseru, *“Subhanallah,” mendengar kisah hidup Bapak berusia 55 tahun ini..*

Tukang becak ini *Hafidz Qira’at Sab’ah !* 
Beliau menghafal Al-Qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan : 
*Qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy,* dan lainnya.
Dua kalimat itu sederhana, tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

*Jangan pernah menyakiti*.
Dalam tafsir beliau di antaranya adalah "soal tarif becaknya". 
*"Jangan sampai ada yang menawar"*, karena menawar menunjukkan *ketidakrelaan* dan *ketersakitan.*

Misalnya ada yang berkata, *“Pak, Terminal Rp 5.000 ya."*
Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak."
*Itu namanya sudah menyakiti*.
Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.

*“Pak, terminal Rp 5.000 ya.”* Jawabnya pasti *OK.* “Pak, terminal *Rp 3.000 ya."*
Jawabnya juga *OK.* Bahkan kalau, “Pak, terminal *Rp 1.000 ya.”* Jawabnya juga sama, *OK.*
Gusti Allah, manusia macam apa ini ?

Kalimat kedua, *"Hati-hai memberi makan Istri"* Artinya, Sang Istri *hanya akan makan dari keringat* dan *Becak tuanya*. Rumahnya berdinding gedek. *Istrinya berjualan gorengan*. 
Stop ! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu.
Harap tahu, *Putra Beliau dua orang Hafidz Al-Qur’an semua.* 
Salah satunya sudah menjadi Dosen terkenal *di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Jakarta.* 
Adiknya, tak kalah sukses. *Pejabat strategis di Pemerintah*.

Uniknya, saat pulang, *anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah*.
Mobil ditinggal beberapa blok dari Rumah. 

*Semua aksesoris, seperti arloji* dan *handphone dilucuti.*
Bahkan, *baju parlente diganti kaus oblong* dan *celana sederhana*. 
*Ini Adab* dan *Tata Krama..*

Sudah berulang kali *Sang Putra mencoba meminta Bapak* dan *Ibunya ikut ke Jakarta,* tetapi tidak pernah tersampaikan.

Setiap kali akan bicara, *serasa tercekat di tenggorokan*, lalu mereka *hanya bisa menangis*. 

Menangis, *Sang Bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya*, dan *dia mempersilakan Putra-Putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri..*

Ustadz Salim melanjutkan, *“Waktu saya ceritakan ini pada Istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito* keesokan harinya, *kami menangis..*

Ada banyak Kekasih Allah yang tak kita kenal !

Ah, benar sekali : *Banyak Kekasih Allah* dan *"Manusia Langit" yang tidak kita kenal.* tukas Ustad Salim A Fillah.

*Kawanku*, hari terus berganti, Matahari datang Pagi ini, dan menghilang Sore nanti.

*Usia kita terus bertambah*, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan *hanya untuk mengejar dunia yang sementara.* 

*Padahal esok pada waktunya*, kita semua saat pulang *ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku..*
Tak ada bekal uang yang berlaku..

*Semua harta* yang selama ini kita kejar habis-habisan, *ternyata semu belaka..*

*Pangkat, Jabatan, Kemewahan* yang selama ini dibanggakan, *akan berakhir ditimbun tanah Kuburan.*

*Banyak orang* yang mengejar label kaya dengan *menggadaikan dunianya..*
*Harga diri sudah musnah entah kemana..*

*Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya*, dan *lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya..*
Benar kata kawan saya Mas Arief Budiman, 
*"Orang kaya adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi*

*"Orang miskin adalah orang yang selalu merasa kurang".*

*SAAT maut menyapa,* yang kita bawa hanya *Amaliyah..*

Adapun *harta* hanya akan membuat pertanyaan di *Padang Mahsyar* kian berat..

Semoga ALLAH menolong kita..

Aamiin YRA

Rabu, 11 Desember 2019

cantik dan Jelek Sama Saja

Punya makanan enak berbagai macam, tetap saja yg dapat kita nikmati hanya sebatas isi perut.

Punya mobil banyak berjejer, tetap saja hanya satu mobil yang dapat kita pakai bepergian.

Punya rumah luas dan mewah, tetap saja hanya sepetak kamar yg kita perlukan untuk istirahat.

Punya baju di lemari berbagai model, tetap saja hanya sepasang yg dapat kita pakai.

Inilah kenikmatan dan kesenangan dunia,
Semua terbatas, semua sementara, semua tak ada yg abadi.

Pangkat, jabatan, popularitas, dan semua kemewahan yg melekat pada diri kita pada masanya pasti kita tinggalkan

Dan pada akhirnya kita semua sama...

Saat usia 60 tahun.."CANTIK DAN JELEK, SAMA SAJA". Karena tak peduli seberapa cantiknya Anda,  di usia itu kerutan, darkspot, kulit kendur, tak bisa terus anda sembunyikan meski anda tutupi dengan Gincu dan Bedak

Saat usia 70 tahun "POSISI ATASAN DAN BAWAHAN, SAMA SAJA". Karena setelah semua Pensiun, tak ada lagi Boss atau Bawahan

SA'AT usia 80 tahun "RUMAH BESAR DAN KECIL, SAMA SAJA". Karena tulang sendi lutut dan kaki semakin renta, semakin sulit untuk bisa bergerak;  sekarang Anda cuma butuh ruang kecil untuk bisa duduk.

SA'AT usia 90 tahun (jika masih hidup) "PUNYA MAKAN ENAK DAN MAKANAN BIASA, SAMA SAJA" Karena saat itu Anda tak lagi bisa menikmati Steak yang lezat, gulai, rendang, dll, karena gigi mulai copot, makan banyak pantangannya, perut tak lagi bisa dimasuki banyak Makanan, Lidah sudah tak punya rasa, dan Anda tak bisa lagi ke tempat dimana Anda bisa menghabiskan Uang Anda selain lbh memilih duduk di rumah.

Dan saat AJAL TIBA "KAYA DAN MISKIN, SAMA SAJA". Karena tak satupun dari harta benda yg kita miliki dapat kita bawa, Anda hanya akan memakai Kain Kafan dan tidur beralaskan tanah dgn ukurannya yang sama;  

Oleh karena itu,  semasa Hidup, jangan sombong atas apa yang kita MILIKI, karena kita akan berakhir SAMA, dan JANGAN Terlalu lalai Mengejar Dunia, karena PADA AKHIRNYA  Anda tak membawa APA-APA_

Kecuali hanya amal Kebaikan yang akan kita bawa di Akhirat nanti

Senin, 09 Desember 2019

meng olok olok Nabi

*🔰⛓Kisah Munafik di zaman Nabi*

Dahulu Di belakang Nabi, orang munafiq mengata-ngatai  bahwa nabi si perut buncit dan pengecut, lalu ketika berita ini sampai ke Nabi, maka orang munafik mendatangi nabi mengklarifikasi ucapannya bahwa itu sekedar guyonan dan candaan untuk mengusir lelah di saat safar...

Maka Allah langsung turunkan ayatnya dari langit, menyuruh nabi menjawab:

 ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ 

 *Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"*

لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ

 *Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman*. — Surat At-Taubah Ayat 66

Dan sekarang kita juga bisa lihat orang2 dizaman saat ini yang katanya kyai/Gus/Ustadz atau apalah julukannya yang menghina dan melecehkan nabi dengan julukan2 yang tidak layak diucapkan oleh seorang yang mengaku sebagai ahlu sunnah... 

*apa yakin anda ahlu sunnah?*

*Atau Justru anda seperti orang2 Munafik yg seperti riwayat diatas?*
_______________
📚 Sumber:
● Al Iman

🚫✋🏼 Raihlah kebahagiaan dunia dan akhirat melalui majelis ilmu syar'i(Tempat Pengajian). Jangan mencukupkan mengambil ilmu dari internet sehingga lalai menghadiri majelis ilmu.

 ➖➖➿❁✿❁➿➖➖
♻️ Free Repost & Share
📍Us Follow ⤵️⤵️
_______________
🔘 Telegram :
https://t.me/AssunnahTulungagung
◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎
●═══════❁📚❁═══════●